Banner Pemprov

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2): Setahun di Kansas, Awal Mula Benih DBL

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2): Setahun di Kansas, Awal Mula Benih DBL

Satu-satunya Siswa Muslim di Sekolah, Saya Menemukan Toleransi di Kansas. Penampakan Aza dengan keluarga angkat--

Penegasan: Saya tidak punya ijazah SMA. Seumur hidup, saya hanya merasakan bangku SMA selama setahun.

Tentu saja, ini tergantung sudut pandang pendidikan Amerika atau Indonesia. Kalau dari sudut pandang Indonesia, hanya setahun.

Sebab, saya hanya tercatat resmi pernah bersekolah selama setahun di Ellinwood High School, Barton County, negara bagian Kansas, pada 1993–1994.

Dari sudut pandang Amerika, saya bisa dihitung dua tahun. Kelas III SMP, alias kelas 9, di sana setara dengan kelas freshman, tahun pertama SMA. Dalam pembagian jenjang tersebut, SMP mencakup kelas 7–8, sedangkan SMA berlangsung empat tahun, dari kelas 9 hingga kelas 12.

Saya tinggal di Indonesia. Jadi, saya bisa bilang hanya pernah merasakan bangku SMA selama setahun.

Semua gara-gara tes penempatan yang saya jalani ketika pertama kali masuk sekolah di Kansas itu.

Waktu pertama tiba di rumah John dan Chris Mohn, saya ditanya umur berapa dan kelas berapa. Saya bilang, pada Juli itu saya baru berulang tahun ke-16. Seharusnya saya masuk kelas 10, alias sophomore.

Karena keduanya pengajar di SMA setempat, mereka meminta saya mencoba tes kemampuan, atau assessment test, untuk menentukan penempatan kelas. Saya manut saja.

Ternyata, John dan pihak sekolah menyimpulkan bahwa saya mampu mengikuti kelas 11, alias junior. Lompat setahun. Hanya pelajaran bahasa Inggris yang saya ikuti di kelas sophomore.

Saya manut saja. Untuk kemampuan bahasa Inggris, ada sejumlah faktor penunjang.

Pertama, pelajaran jurnalistik. Di kelas itu, kami mengerjakan koran sekolah dan buku tahunan, atau yearbook. Saya akan selalu berkutat dengan dunia penulisan dan penyuntingan.

Kedua, pelajaran dari bapak dan ibu angkat di rumah serta kantor koran tempat mereka bekerja. Saya benar-benar beruntung mendapatkan keluarga angkat di lingkungan pendidikan sekaligus media. Rasanya seperti mendapatkan kelas 24 jam sehari.

Untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam bahasa Inggris, John memaksa saya secara berkala menulis di korannya. Temanya bebas, terserah saya. Yang penting, ada kaitannya dengan Indonesia.

BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 1): Kisah Azrul Ananda Berangkat ke Amerika di Usia 16 Tahun

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: