Kabut Asap vs Abu Vulkanik, Mana yang Lebih Berbahaya bagi Kesehatan?

Rabu 09-09-2026,16:24 WIB
Reporter : Fadly
Editor : Mahmud

Meski disebut abu, abu vulkanik bukanlah abu hasil pembakaran seperti yang ditemukan pada kayu atau kertas.

Material tersebut dapat mengandung pecahan mineral dan batuan dengan karakteristik abrasif.

Partikel abu vulkanik yang terhirup dapat mengiritasi hidung, tenggorokan dan saluran pernapasan.

Paparan dalam jumlah besar juga dapat menyebabkan batuk serta memperburuk gangguan pernapasan tertentu.

Selain berdampak terhadap kesehatan, abu vulkanik juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Material tersebut bisa menumpuk di kendaraan, atap rumah, jalan, serta berbagai permukaan lainnya.

Jika dibersihkan secara sembarangan dalam kondisi kering, abu justru dapat kembali beterbangan sehingga meningkatkan risiko terhirup.

Lantas, mana yang lebih berbahaya, kabut asap atau abu vulkanik?

Tidak ada jawaban mutlak karena tingkat bahayanya bergantung pada konsentrasi partikel, ukuran partikel, durasi paparan, serta kondisi kesehatan orang yang terpapar.

Kabut asap karhutla memiliki risiko tersendiri karena dapat membawa partikel halus seperti PM2.5 yang mampu masuk jauh ke paru-paru.

Sementara abu vulkanik memiliki karakteristik berupa partikel mineral yang dapat menyebabkan iritasi dan bersifat abrasif.

Karena itu, keduanya tidak boleh dianggap sebagai gangguan udara biasa.

Ketika kabut asap maupun abu vulkanik sedang pekat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel.

Pintu dan jendela rumah juga sebaiknya ditutup ketika kualitas udara di luar memburuk.

Aktivitas olahraga di luar ruangan perlu dikurangi, terutama ketika udara dipenuhi partikel.

Khusus saat terjadi hujan abu vulkanik, masyarakat juga disarankan berhati-hati ketika membersihkan endapan abu.

Kategori :