NEW YORK, SUMEKS.CO - Presiden Amerika Serikat (AS) melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, New York, Selasa (28/7/2026).
Netanyahu memuji pertemuan pertamanya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejak kedua negara melancarkan perang terhadap Iran.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Netanyahu untuk memperbaiki hubungannya dengan Trump yang belakangan dilaporkan mengalami ketegangan.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, pertemuan selama hampir 90 menit itu berlangsung positif dan produktif. Namun, Gedung Putih belum membeberkan secara terperinci hasil pembicaraan kedua pemimpin.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Rontok 6 Persen, AS dan Iran Hentikan Serangan, Pasar Langsung Bereaksi
BACA JUGA:Dukung Perundingan Diplomatik Teheran-Oman, AS Hentikan Serangan ke Iran
Netanyahu kemudian menyebut pertemuan tersebut berjalan “sangat baik”. Melalui unggahan di Instagram, ia mengatakan pembicaraan turut dihadiri jajaran senior pemerintahan Trump.
“Ketika saya mengatakan luar biasa, saya tidak bermaksud secara dangkal,” kata Netanyahu dalam bahasa Ibrani.
“Sebuah percakapan dengan kemitraan penuh, dengan dukungan timbal balik, dengan pemahaman tentang tujuan bersama untuk memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan tujuan-tujuan lainnya juga,” lanjutnya, sebagaimana diberitakan AP News.
Israel serahkan langkah berikutnya kepada Trump
Seorang pejabat Israel yang mengetahui isi pertemuan mengatakan, Netanyahu menyampaikan bahwa Israel akan membalas apabila Iran kembali menyerang negaranya. Namun, di luar kemungkinan serangan tersebut, Israel akan memercayakan langkah berikutnya kepada Trump.
BACA JUGA:3 Negara Ajukan Proposal Gencatan Senjata 10 Hari Kepada Iran-AS
BACA JUGA:Iran Perintahkan Houthi Tutup Laut Merah
Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel akan terus berbagi informasi intelijen dengan Amerika Serikat. Pemerintah Israel, kata pejabat tersebut, memahami Washington memiliki pertimbangan dan jadwal tersendiri.
Pertimbangan itu termasuk dampak eskalasi militer terhadap negara-negara sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah. Pernyataan Netanyahu muncul ketika Trump berusaha mencari kesepakatan dengan Teheran untuk mengakhiri konflik.
Sikap tersebut berbeda dengan keinginan Netanyahu yang disebut ingin melanjutkan operasi militer terhadap Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.