Selain itu, file sampah dan cache yang menumpuk juga menjadi faktor utama performa komputer menurun.
Windows 10 secara otomatis menyimpan file temporary dari aktivitas pengguna, termasuk cache browser dan sisa instalasi aplikasi.
Jika tidak dibersihkan secara rutin, kapasitas penyimpanan akan cepat penuh dan sistem menjadi berat.
Membersihkan file sampah sebenarnya sangat mudah dilakukan tanpa aplikasi tambahan.
Pengguna cukup membuka menu Run dengan menekan tombol Windows + R, lalu mengetik “temp” maupun “%temp%” untuk menghapus file sementara yang sudah tidak diperlukan.
Mengosongkan Recycle Bin juga dapat membantu mempercepat kinerja penyimpanan.
Tak hanya itu, efek animasi bawaan Windows 10 ternyata juga cukup memakan sumber daya, terutama pada laptop dengan spesifikasi rendah.
Efek visual seperti transparansi dan animasi perpindahan jendela memang membuat tampilan terlihat menarik, namun di sisi lain bisa membebani RAM dan prosesor.
Karena itu, banyak teknisi komputer menyarankan pengguna untuk mengaktifkan mode “Adjust for best performance” agar animasi berkurang dan sistem terasa lebih responsif.
Meski tampilannya menjadi lebih sederhana, performa perangkat biasanya meningkat cukup signifikan.
Masalah komputer lemot juga sering disebabkan oleh kapasitas penyimpanan yang hampir penuh.
Drive C yang terlalu sesak membuat Windows kesulitan menjalankan proses sistem secara optimal.
Idealnya, pengguna tetap menyisakan ruang kosong sekitar 15 hingga 20 persen agar performa tetap stabil.
Sementara itu, ancaman virus dan malware juga tidak boleh dianggap remeh.
Beberapa malware bekerja diam-diam di latar belakang dan menghabiskan sumber daya komputer tanpa disadari pengguna.
Untungnya, Windows 10 sudah dibekali Microsoft Defender yang mampu melakukan pemindaian sistem secara gratis tanpa perlu menginstal antivirus tambahan.