Satu kilo tepung mocaf dibanderol Rp 34.000,-, berkali-kali lipat dibanding hanya menjual singkong utuh saja.
BACA JUGA:Polda Sumsel Tindak Tambang Ilegal di Banyuasin, Lima Alat Berat Disita
Produk sampingan selain mocaf, KWT Embun Pagi juga membuat eyek-eyek. Itu adalah kudapan ringan dari singkong yang renyah.
Riyanti juga bersyukur PHE Jambi Merang selain melatih pemasaran juga aktif mempromosikan tepung mocaf ini.
PHE Jambi Merang memang kerap mengusung tepung mocaf dari Desa Simpang Bayat ini di berbagai pameran kabupaten maupun provinsi, misalnya saja Sriwijaya Expo di Palembang. Riyanti yakin dengan promosi itu, paling tidak masyarakat mengenal tepung mocaf dan manfaatnya.
Di bulan Ramadan, konsumsi makanan berbasis tepung meningkat. Tepung mocaf bisa menjadi alternatifnya.
BACA JUGA:Kilang Pertamina Plaju Perkuat Operasional, Pastikan Pasokan Aman Selama Ramadan-Idulfitri 1447 H
Tepung mocaf pada dasarnya merupakan sumber karbohidrat seperti halnya terigu, namun memiliki keunggulan karena bebas gluten dan cenderung lebih mudah dicerna bagi sebagian orang.
Ketika berpuasa, makanan yang mudah dicerna menjadi penting agar lambung yang kosong seharian tidak “terkejut” oleh asupan yang terlalu berat.
Untuk takjil, olahan mocaf dapat dijadikan bakwan dan pisang goreng yang renyah. Untuk sajian berbuka, mocaf diolah menjadi brownies kukus, bolu pandan, dan kue lapis.
Bahkan untuk persiapan Lebaran, tepung ini dipakai membuat nastar, kastengel, dan putri salju yang tak kalah lembut dari tepung terigu.
Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1 Iwan Ridwan Faizal mengatakan bahwa mocaf dapat membantu mengurangi ketergantungan pada tepung terigu berbasis gandum impor.
Bagi warga, ini berarti rantai produksi yang lebih dekat, biaya yang lebih terkendali, serta membuka peluang nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Program pemberdayaan masyarakat dirancang agar bergulir memberikan manfaat langsung terhadap kelompok dan secara tidak langsung berkelanjutan berdampak ke ekonomi masyarakat.
Program ini memberi kesempatan bagi para ibu rumah tangga untuk lebih berdaya dan terlibat dalam aktivitas ekonomi. Sementara bagi masyarakat, ini menjadi simbol kemandirian pangan lokal,” jelasnya.