LAHAT, SUMEKS.CO – Aktivitas warga di sepanjang jalur Merapi, Kabupaten Lahat, mulai kembali normal.
Sejak angkutan batu bara tidak lagi melintas di jalan umum, warga kini berani membuka pintu rumah, duduk di teras, hingga membiarkan anak-anak bermain di halaman.
Kondisi tersebut menyusul diberlakukannya instruksi Gubernur Sumatera Selatan tentang larangan truk angkutan batu bara melintas di jalan umum mulai 1 Januari 2026.
Dampaknya langsung dirasakan masyarakat, terutama terkait berkurangnya debu yang selama ini menjadi keluhan utama.
BACA JUGA:Muara Enim Siapkan 18 Proyek Strategis 2026
BACA JUGA:Edison Dukung Penyetopan Angkutan Batu Bara per 1 Januari 2026
Wakil Bupati Lahat, Widia Ningsih, menyebut kebijakan itu membawa perubahan nyata bagi kehidupan sosial warga. Lingkungan permukiman yang sebelumnya dipenuhi debu kini terasa lebih bersih dan nyaman.
“Sekarang masyarakat mulai berani membuka pintu rumah. Anak-anak bisa bermain di teras. Ini perubahan kecil, tapi dampaknya besar bagi warga,” kata Widia.
Menurutnya, selama bertahun-tahun warga Merapi harus beradaptasi dengan kondisi jalan yang padat truk batu bara.
Selain polusi debu, faktor keselamatan juga menjadi kekhawatiran, terutama bagi anak-anak dan lansia.
BACA JUGA:PT Bukit Asam Luncurkan BA Grow, Pupuk Organik Kalium Humat dari Hilirisasi Batu Bara
BACA JUGA:Dipantau dari Udara, Polda Sumsel Sikat Tambang Batu Bara Ilegal di Muara Enim
Widia menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Sumatera Selatan atas langkah tegas tersebut.
Wabup Lahat menilai kebijakan itu bukan sekadar pengaturan lalu lintas, tetapi juga bentuk perlindungan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat.
Pernyataan itu disampaikan Widia saat menghadiri ground breaking pembangunan fly over PT Mustika Indah Permai di Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, beberapa hari lalu.