PALEMBANG, SUMEKS.CO - Sungai Kungkilan atau anak Sungai Lematang yang melintasi beberapa desa di Kecamatan Merapi Barat, dulu adalah sumber utama air bersih dan mengairi sawah masyarakat kini tinggal kenangan.
"Sungai Kungkilan kini rusak, akibat operasional perusahaan tambang PT Bara Alam utama (BAU), sehingga warga tidak bisa lagi menikmati air bersih dan pengairan untuk lahan persawahan," kata Ketua Yayasan Anak Padi, Sahwan dalam rilisnya kepada SUMEKSCO Rabu 26 Februari 2025.
Aliran Sungai Lematang Kabupaten Lahat.-foto:dok sumeksco-
Ia mengungkapkan sejak beberapa tahun lalu pihaknya bersama warga dari sejumlah desa sudah sering kali melakukan aksi protes atas pengrusakan Sungai Kungkilan oleh perusahaan tambang tersebut. Namun, unjuk rasa dan protes yang dilakukan tidak digubris.
“Padahal dampak dari aksi penambangan tersebut merusak ekosistem sungai, pencemaran, dan penutupan akses air untuk persawahan oleh PT BAU, eksplorasi tetap saja berlangsung,” ungkap dia.
BACA JUGA:BATAL Puasa Ramadhan Anda Jika Tanpa Niat, Niat Puasa Cukup Sekali atau Setiap Malam?
Pada tahun 2022, warga sempat gembira lantaran Gubernur Sumatera Selatan akan mencabut dan mengevaluasi proper biru PT BAU dan meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk menindaklanjutinya. Tapi nyatanya sampai saat ini PT BAU masih tetap beroperasi.
“Itu bukan wewenang kami,” ujar salah satu petinggi DLH Lahat, Sumatera Selatan, ketika di konfirmasi alasan masih beroperasinya PT BAU.
Tidak adanya keterbukaan informasi ini yang juga disayangkan oleh penduduk di sejumlah desa disekitaran Sungai di Kecamatan Merapi Barat.
"Hingga kini belum ada keterbukaan informasi dari pemerintah pusat maupun daerah dalam penyetopan izin pertambangan bagi perusahaan tersebut maupun pencabutan predikat proper biru karena terbukti bersalah merusak sungai dan mencemarkan lingkungan," ujar Sahwan.
Padahal dampak nyata dari penambangan yang dilakukan oleh PT BAU tidak hanya pada sisi lingkungan, tapi juga perekonomian lantaran hilangnya sumber air bersih.
Seperti persawahan dan lahan pertanian lain tidak produktif lagi. Bahkan, warga Desa Muara Maung, yang merupakan desa yang dilintasi Sungai Kungkilan kini kerap kebanjiran di musim penghujan dan kekeringan hingga berdebu tebal saat kemarau tiba.