Rumah Limas Wong Plembang Ternyata Punya Nilai Filosofi Tersendiri

Rumah Limas Wong Plembang Ternyata Punya Nilai Filosofi Tersendiri

Rumah adat Palembang, Rumah Limas yang ada di Museum Balaputera Dewa, Palembang. -Edy Handoko-

PALEMBANG, SUMEKS.CO - Rumah Limas merupakan rumah panggung tradisional ciri khas Provinsi Sumsel, khusus di Kota PALEMBANG. Masih sering ditemukan di perkampungan PALEMBANG diantaranya wilayah Seberang Ulu I PALEMBANG.

Tahukan kamu bentuk atau arsitektur bangunan Rumah Limas yang bertingkat ternyata mempunyai filosofi tersendiri untuk setiap tingkat bangunannya.

Kiagus Abdullah Ibrahim (74) tokoh masyarakat asli Palembang, menceritakan ada beberapa nilai filosofi pada tiningkatan atau undakan teras pada Rumah Limas. 

Tingkatan biasa disebut oleh masyarakat asli Palembang dengan istilah kekijing (kijing).

BACA JUGA:Rumah Adat Ogan Ilir, Terdapat Tenggalung Simbol Penghalang Anak Gadis Tidak Keluar Rumah

Nilai filosofi yang pertama, kata pria paruh baya yang akrab disapa Buya ini yakni nilai budaya dalam pendirian Rumah Limas, dan dapat dilihat pada arsitekturnya yang berbentuk rumah panggung dan terbuat dari kayu. 

Bentuk rumah panggung dengan bahan-bahan kayu, sebagai penyikapan terhadap kondisi tanahnya yang berupa rawa-rawa sehingga selalu basah dan suhu udara yang panas. 

Dengan kondisi tanah yang basah dan lingkungan yang panas, maka desain rumah berbentuk panggung merupakan suatu pemecahan yang tepat. 

Lantai yang tidak berada langsung di atas tanah memungkinkan bangunan tidak akan terendam ketika hujan atau air pasang sedang naik. Suhu lingkungan yang panas juga dapat diminilaisir dengan bentuk rumah yang cukup tinggi. 

BACA JUGA:Museum Balaputera Dewa, Menyimpan 8.800 Benda Bersejarah dan Rumah Adat Palembang

Kemudian, nilai religius dalam pendirian rumah Limas, dapat dilihat dalam pemilihan hari Senin sebagai hari untuk memulai pembangunannya. Nilai ini juga dapat dilihat dalam ritual-ritual yang diadakan baik ketika mempersipakan pembangunan, pelaksanaan pembangunan ataupun ketika bangunan telah selesai dan hendak di tempat.

"Kenapa hari Senin, karena dianggap hari itu bertepatan dengan hari dimana Nabi Muhammad Rasullullah dilahirkan," sebutnya.

Menurutnya, pelaksanaan ritual tersebut sangat berkaitan dengan keyakinan. Nilai religius juga dapat dilihat pada jumlah anak tangga yang selalu dalam hitungan ganjil. 

"Mereka meyakini bahwa jumlah ganjil akan membawa keberkahan bagi yang menempatinya, dan sebaliknya apabila berjumlah genap konon keluarga yang menempati akan mengalami banyak kesulitan," tutur Buya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: