Dirjen Diksi: Program RPL PTN Demi Jaga Kompetisi

Dirjen Diksi: Program RPL PTN Demi Jaga Kompetisi

--

JAKARTA, SUMEKS.CO - Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) adalah pengakuan atas Capaian Pembelajaran seseorang yang diperoleh dari pendidikan formal atau nonformal, dan/atau pengalaman kerja kedalam pendidikan formal (Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi nomor: 26 Tahun 2016).

Dirjen Pendidikan Vokasi (Diksi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset, Teknologi (Kemendikbudristek) Kiki Yuliati mengatakan rekognisi pembelajaran lampau (RPL) tidak mengurangi kualitas dan program RPL bukan merupakan upaya pencucian ijazah. 

Jadi RPL yang dilakukan perguruan tinggi negeri (PTN) ini merupakan upaya untuk merangkai kompetensi dan ketrampilan yang dihasilkan oleh lembaga kursus pelatihan (LKP).Sehingga program pendidikan vokasi memberikan tiga nilai penting. Yakni nilai pendidikan, bahwasanya pendidikan vokasi tidak hanya memberikan nilai ketrampilan, namun juga memberikan nilai pendidikan.

Tampilannya kursus ketrampilan, tapi di dalamnya ada nilai Pendidikan. Kalau dilihat didalam pendidikan vokasi, ada sebuah  nilai ekonomi. Bahwasanya, pendidikan vokasi memberikan kesempatan bekerja, berwirausaha dan melanjutkan studi pendidikan. Intinya pendidikan vokasi harus memberikan nilai ekonomi,” bebernya.

BACA JUGA:Telkomsel All Out Dukung Akses Broadband Sukseskan Perhelatan Showcase Industry 4.0

Ada Nilai pendidikan vokasi lainnya adalah nilai sosial. Bahwa, pendidikan vokasi harus mampu mencetak lulusan yang mandiri. Mampu menjaga dirinya sendiri, sekaligus mengabdikan dirinya.

Terus Pengabdian  yang sesungguhnya ini bukan saja untuk dirinya, bisa dikatakan untuk keluarga atau kepada masyarakat.

Kami tekankan  bahwa pendidikan vokasi tidak boleh mati, tetapi harus futuristik. Dikarenakan, terkait dengan dunia  industry dan pasti  membutuhkan tenaga kerja sesuai kebutuhannya.

“Terakhir, kebutuhan industry yang diminta tiap hari selalu berkembang,  sementara pendidikan vokasi baru menghasilkan sesuai jenjangnya. kesimpulannya pendidikan vokasi harus melihat sekian langkah ke depan dengan merancang kurikulum pembelajaran.  Jadi  lulusan akan disesuaikan dengan industri,” tutupnya. (*)

Sumber: