Banner Pemprov

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4–Habis)

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4–Habis)

Tidak Lulus SMA, Azrul Ananda Berhasil Meraih Gelar Cum Laude--

Sementara ibu saya hanya ngomel melihat dandanan wisuda saya. Di balik toga, saya mengenakan jins bolong-bolong dan sepatu skate butut. Saya jelaskan ke ibu, kalau celana dan sepatu itu punya arti penting. Karena itulah celana dan sepatu yang selalu saya pakai waktu kerja di kafetaria.

Celana dan sepatu yang digunakan untuk mengelap meja, mencuci piring, bahkan pernah ikut lompat masuk kontainer pembuangan sampah untuk mengambil bak sampah yang terjatuh.

Saya juga bilang ke ibu: Masih beruntung saya pakai baju. Itu di sana ada wisudawan yang telanjang di balik toganya!

Dan yang membuat saya super bahagia, di hari wisuda itu orang tua saya datang lengkap. Selain Abah dan Ibu, ada pula John dan Chris Mohn. Abah saya sampai bercanda: "Saya ini bingung, bapak kamu yang asli itu yang mana..."

Malam itu, setelah acara makan malam, Abah saya menyampaikan ucapan terima kasih yang memorable banget. "Terima kasih kamu selama ini tidak pernah merepotkan Abah. Ada banyak teman Abah yang punya jabatan tinggi, termasuk menteri, yang harus repot ke Amerika karena anaknya bermasalah," tuturnya. "Terima kasih karena kamu juga telah memenuhi tiga hal penting. Satu, lulus kuliah on time. Dua, tidak masuk penjara. Tiga, tidak menghamili anak orang," tambahnya.

Sekarang, lewat tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih balasan. "Abah, terima kasih sudah bekerja keras untuk memastikan anak-anaknya punya masa depan. Terima kasih karena Abah juga tidak pernah rewel merepotkan anaknya selama kuliah. Ada banyak teman saya yang terlalu sering diteleponi orang tuanya, sampai membuat mereka merasa terganggu. Terima kasih karena hampir tidak pernah mengganggu saya, sehingga saya bisa menjadi saya seperti yang saya inginkan sendiri..."

Sedikit bocoran: Ikut wisuda belum berarti benar-benar lulus. Sejumlah mahasiswa yang ikut acara wisuda bersama saya sebenarnya masih punya "utang" kredit yang harus dituntaskan. Baru ketika sisa kelas itu diselesaikan mereka bisa menerima ijazah/diploma resminya. Kampus punya kelonggaran kebijakan soal itu.

Tapi jangan khawatir. Ijazah saya sah. Ada tanda tangan gubernur California kala itu, Gray Davis.

Meski demikian, ijazah yang saya punya itu juga tidak sakral. Kalau hilang, saya tinggal hubungi pihak administrasi kampus. Tidak perlu surat polisi dan lain-lain. Bayar biaya sedikit (mungkin belasan dolar), dan mereka akan mencetak ulang ijazah tersebut dengan cepat.

Ada cerita lucu soal bisa cetak ulang ini. Tidak lama setelah angkatan saya lulus, Arnold Schwarzenegger terpilih menjadi gubernur California. Jadi, mereka yang lulus di saat itu akan mendapatkan ijazah yang bertanda tangan Sang Terminator.

Seorang teman seangkatan saya iri dengan kenyataan itu. Dan dia menemukan "celah" menarik. Kalau kita minta cetak ulang, maka ijazah pengganti akan menggunakan template terbaru. Yang menggunakan tanda tangan gubernur terkini.

Dia pun iseng cetak ulang ijazah. Waktu itu katanya bayar USD 17. Voila! Dapatlah dia lembar ijazah baru dengan tanda tangan Arnold Schwarzenegger!

Sah? Ya. Sakral? Tidak perlu.

Fast forward, Agustus kemarin. Agustus 2026.

Giliran istri saya yang menangis sedih. Tepatnya ketika pulang dari Kansas, usai mengantar anak pertama kami masuk kuliah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: