Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4–Habis)
Tidak Lulus SMA, Azrul Ananda Berhasil Meraih Gelar Cum Laude--
Life must go on!
Salah satu cita-cita saya dulu adalah bekerja di advertising. Bikin iklan-iklan yang kreatif. Di jurusan saya dulu, ada pecahan konsentrasinya. Marketing Advertising.
Tapi kemudian saya terpaksa "belok" ke konsentrasi International Marketing. Gara-gara ketemu profesor (dosen) yang potensi merepotkan. Wkwkwk...
Ceritanya begini. Di kelas advertising dasar, saya merasa yakin akan dapat nilai A. Terburuk B+. Karena di sana, semua kelas sudah punya silabus jelas. Sejak hari pertama di setiap kelas, kita sudah diberi tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan nilai terbaik. Tinggal kita mau ngotot atau tidak untuk meraih nilai ujian sesuai target, juga mau atau tidak mengerjakan tugas-tugas ekstra kredit.
Menurut hitungan saya, nilai saya antara B+ atau A. Lha di akhir semester, kok saya dapat C.
Saya yakin ada kesalahan perhitungan atau tabulasi. Saya protes lewat asisten dosen. Saya tunjukkan semua hasil ujian saya, semua tugas-tugas saya. Tidak mungkin saya dapat C. Dan selama saya kuliah, saya hampir tak pernah dapat C. Hanya dua kali saya dapat C, yaitu akuntansi (malas menghitung) dan English Literature (berat, bos!).
Ternyata, dosen tidak mau mengubah nilainya. Tak tahu kenapa.
Saya pun protes sampai ke dekan sekolah bisnis. Pada akhirnya, "gugatan" saya dipenuhi. Nilai saya diubah jadi A-.
Masalahnya, kalau saya mau lanjut di konsentrasi advertising, saya akan berhadapan lagi dengan dosen tersebut beberapa kali. Ampun dah. Saya pun memutuskan geser konsentrasi ke International Marketing. Daripada daripada...
Tahun 1999 tiba. Waktunya wisuda.
Fakta bahwa saya tidak lulus SMA semakin tidak relevan.
Saya senang sekali setiap kali masuk ke gedung fakultas bisnis. Karena di dinding selalu terpampang nama-nama anak yang masuk "Dean's List" atau "Honor Roll". Nama "Azrul Ananda" selalu ada di situ.
Saya tidak pernah lapor orang tua nilai saya berapa. Orang tua, terus terang, juga tidak pernah tanya nilai saya berapa. Wkwkwk. Yang penting lulus.
Tempat wisuda juga sangat berarti buat saya. Yaitu di Arco Arena, gedung basket kandang tim NBA, Sacramento Kings. Gedung itu sudah diratakan dengan tanah pada 2016, digantikan dengan stadion baru yang lebih megah di pusat kota. Namun, pada 1999, itu merupakan salah satu arena NBA paling kondang.
Ketika datang untuk wisuda itu, Abah saya agak terkejut. Saya dapat wisuda barisan terdepan, dengan tali tambahan mengalungi leher dan toga saya. Dia tidak menyangka anaknya lulus cum laude. Saking bangganya, dia sempat menulis soal itu di koran yang waktu itu dia pimpin.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
