Kenapa Semua Serba Merah Saat Imlek? Ini Penjelasan Selengkapnya
Kenapa Semua Serba Merah Saat Imlek? Ini Penjelasannya--
BACA JUGA:Lestarikan Warisan Budaya, Pemkab Ogan Ilir Sosialisasikan Pendaftaran Naskah Kuno Nusantara
Di ruang publik seperti pusat perbelanjaan, tempat wisata, dan kawasan pecinan, warna merah juga berfungsi sebagai alat komunikasi visual yang efektif.
Dinas Pariwisata DKI Jakarta dalam laporan kegiatan budaya tahunan menyebutkan bahwa dekorasi merah saat Imlek meningkatkan daya tarik wisata karena mudah dikenali, fotogenik, dan menciptakan suasana perayaan yang kuat.
Tidak heran jika lampion merah berjejer menjadi pemandangan wajib setiap awal tahun lunar.
Menariknya, tidak semua warna sebenarnya boleh digunakan secara bebas saat Imlek. Warna hitam dan putih sering dihindari karena diasosiasikan dengan duka.
BACA JUGA:Lestarikan Budaya Lokal, Batik Siger Terus Berkembang Bersama Pemberdayaan Rumah BUMN BRI
BACA JUGA:Rejung Pesirah Hidupkan Tradisi Tadit di Ajang Ngaji Budaya Kemenag
Oleh sebab itu, dominasi merah juga menjadi bentuk penolakan simbolik terhadap kesedihan dan nasib buruk. Tradisi ini masih dijaga oleh banyak keluarga hingga sekarang, termasuk di Indonesia.
Di tengah modernisasi, warna merah tetap bertahan meski desain dan bentuk perayaannya berubah. Lampion kini dilengkapi lampu LED, angpao hadir dalam desain karakter kartun, dan dekorasi digital menghiasi layar pusat perbelanjaan.
Namun makna dasarnya tetap sama, yaitu menghadirkan harapan bahwa tahun yang baru akan lebih baik dari sebelumnya.
Imlek 2026 diprediksi kembali menampilkan dominasi warna merah di berbagai kota besar Indonesia, mulai dari Jakarta, Medan, Pontianak, hingga Surabaya.
Bukan hanya sebagai ornamen budaya, tetapi juga sebagai bahasa simbol yang menyampaikan pesan optimisme kolektif di tengah situasi ekonomi dan sosial yang terus berubah.
Warna merah akhirnya bukan sekadar warna, melainkan narasi panjang tentang ketakutan yang diubah menjadi harapan, mitos yang berkembang menjadi identitas, serta tradisi yang terus hidup di tengah zaman modern.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



