Houthi Terlibat Peperangan dengan Arab Saudi, ini Sejarahnya

Minggu 11-10-2026,18:47 WIB
Reporter : Dendi Romi
Editor : Dendi Romi

BACA JUGA:Houthi Hujani Riyadh dengan Serangan Rudal-Drone, Tegaskan Lanjutkan Permusuhan

Tujuan dibentuknya PLC adalah untuk mengelola urusan politik, keamanan, dan militer negara tersebut, serta untuk mengarahkan negosiasi menuju gencatan senjata permanen. Dewan ini diketuai oleh Rashad al-Alimi, seorang penasihat Presiden Hadi dan mantan menteri dalam negeri pada pemerintahan mendiang Presiden Saleh.

PLC didukung oleh Arab Saudi dan aliansi yang dipimpin Riyadh. Meski tujuannya untuk menyatukan Yaman, keterlibatan Arab Saudi semakin memperpanjang ketegangan.

Selama konflik, kelompok Houthi didukung oleh Iran untuk melawan koalisi militer (termasuk pemerintahan Yaman) yang dipimpin oleh Arab Saudi.

Apa Keinginan Houthi Sebenarnya? Sampai saat ini perang saudara di Yaman masih terus berlangsung. Konflik dengan Arab Saudi kembali memanas sejak Juli 2026 usai runtuhnya kesepakatan gencatan senjata. Perang pun kembali dimulai.

BACA JUGA:Panas... Jet Tempur Italia Jadi Korban Keganasan Drone Houthi

BACA JUGA:Perang Saudara Houthi-Yaman Tewaskan 63 Tentara

Pada awal September, pasukan bersenjata Yaman yang didukung Arab Saudi terlibat pertempuran dengan Houthi di Marib selatan serta Taiz, Lahj, al-Jawf dan al-Bayda. Houthi meraih kemenangan dengan merebut kota Mocha di Laut Merah yang sangat penting, memperluas kendali atas Selat Bab al-Mandeb yang strategis.

Sebagai kelompok poros perlawanan, Houthi menginginkan kekuasaan yang lebih besar di Yaman. Dengan anggota yang sudah mencapai 350.000 orang per 2025, Houthi telah menguasai antara seperempat dan sepertiga wilayah Yaman.

Houthi juga ingin blokade Arab Saudi diakhiri, sehingga mereka bisa mengendalikan seluruh Yaman, termasuk akses ke pendapatan minyak dan gas dalam negeri, demikian menurut laporan BBC.

BACA JUGA:Houthi Gunakan Rudal Buatan Lokal Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 Arab Saudi

BACA JUGA:Kapal Kargo di Laut Yaman Diserang Houthi, 6 ABK Tewas, Salah Satunya WNI

Kini, kelompok Houthi telah melarang pelayaran kapal-kapal Arab Saudi yang telah menggunakan Laut Merah sebagai alternatif Selat Hormuz. Pada pertengahan September 2026, pipa minyak Timur-Barat diserang dengan sebuah drone untuk mengganggu ekspor minyak Arab Saudi. Serangan ini menyebabkan harga minyak global melampaui USD 100 per barel.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan Arab Saudi telah mendesak Presiden Trump untuk 'ikut' menyerang Houthi usai serangan ke pasokan minyak tersebut. Namun, Trump tidak melakukannya karena Houthi telah setuju untuk tidak menyerang aset-aset milik Amerika Serikat. (dri)

 

 

Kategori :