Houthi Terlibat Peperangan dengan Arab Saudi, ini Sejarahnya

Minggu 11-10-2026,18:47 WIB
Reporter : Dendi Romi
Editor : Dendi Romi

SUMEKS.CO - Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman terlibat pertempuran dengan Arab Saudi. Houthi yang didukung Iran ini menyerang Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi pada Sabtu (10/10/2026) yang menewaskan 12 warga sipil. Serangan itu merupakan yang ketiga kalinya sejak awal Oktober 2026. Bagaimana awal mula konfliknya?

Untuk memahami konflik ini, perlu membedakan antara kelompok Houthi, Yaman (pemerintah), dan Arab Saudi. Dalam hal ini, kelompok Houthi tidak sama dengan Pemerintah Yaman, ya!

Houthi merupakan kelompok bersenjata yang muncul di wilayah pegunungan Saada di utara pada 1990-an, menurut Al Jazeera. Sejak awal 2000-an pemberontakan sudah muncul, tetapi perlawanan kepada Pemerintahan Yaman dimulai pada 2014. Sejak inilah perang saudara di Yaman dimulai.

BACA JUGA:Houthi Serang Bandara Riyadh, 12 Warga Tewas

BACA JUGA:Houthi Ingatkan Pakistan-Turki tak Bantu Arab Saudi Dalam Perang Timur Tengah

Pada Januari 2015, Houthi merebut istana presiden di Sanaa, memaksa Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi untuk melarikan diri ke kota pelabuhan Aden di selatan. Sang Presiden Yaman kemudian pindah ke Arab Saudi dengan tetap menjalankan pemerintahannya dalam pengasingan hingga pengunduran dirinya pada 2022.

Bagaimana Houthi dan Arab Saudi Bisa Memanas? Kelompok Houthi telah menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman dan beberapa daerah yang berdekatan dengan Arab Saudi. Sejak September 2026, Houthi telah memperketat kendali atas pantai Laut Merah yang vital di Yaman.

Namun, keterlibatan Arab Saudi telah dimulai saat memimpin koalisi militer melawan Houthi pada Maret 2015, dengan tujuan memulihkan pemerintahan Presiden Hadi saat itu. Houthi kemudian menuduh Arab Saudi melakukan serangan untuk mendukung pemerintah Yaman.

BACA JUGA:Panas... Houthi Serang Bandara Internasional Aden Menggunakan Rudal Balistik

BACA JUGA:Sejumlah Negara Kecam Houthi Serang Gardu Listrik Masjid Nabawi

Selama bertahun-tahun, Houthi terus melakukan serangan menggunakan rudal dan drone bersenjata ke wilayah Arab Saudi. Baru pada 2022, Houthi dan Arab Saudi dimediasi untuk melakukan gencatan senjata.

Pertempuran tersebut menyebabkan hampir setengah populasi di Yaman, atau sekitar 22 juta warga, sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Kondisi ini membuat Yaman menjadi negara dengan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Hal ini diperparah oleh sistem kesehatan dan air yang rusak akibat perang saudara. Ditambah, jutaan warga Yaman terpapar penyakit kolera dan menjadikan negara tersebut sebagai wilayah wabah kolera terburuk di dunia.

Setelah Presiden Hadi mundur pada 2022, dibentuklah Dewan Pimpinan Presiden (Presidential Leadership Council/PLC). Dewan beranggotakan delapan orang tersebut mewakili pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

BACA JUGA:Gempuran Houthi Meningkat, Arab Saudi Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh Seminggu

Kategori :