Nama : Yuri Bella Meisyari
NIM : PO7124226174
Lokus : Prabumulih
Prodi : RPL D4 Kebidanan
Nama Dosen : Wendy Anugrah Octavian, S.Pd, M.Pd
Mata Kuliah : Pancasila
1. Implementasi Pancasila di Tempat Tinggal dan Kehidupan Sehari-hari
Kehidupan sosial masyarakat di Kelurahan Muara Dua Barat, Kota Prabumulih, tidak dapat dipisahkan dari penerapan nilai-nilai Pancasila. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat secara tidak langsung telah menerapkan berbagai nilai yang terkandung dalam Pancasila melalui beragam kegiatan, baik sejak pagi hingga malam hari. Saya dapat merasakan secara langsung bagaimana nilai-nilai Pancasila menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Aktivitas masyarakat di Muara Dua Barat pada pagi hari umumnya diawali dengan suasana yang bernuansa keagamaan. Lantunan azan dari masjid-masjid di sekitar pemukiman menjadi pengingat akan pengamalan Sila Pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Masyarakat yang beragama Islam bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat Subuh secara berjamaah. Sementara itu, warga yang memiliki keyakinan berbeda tetap menunjukkan sikap saling menghormati dengan memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk menjalankan ibadahnya. Sikap toleransi juga terlihat ketika masyarakat saling memberikan ucapan selamat kepada tetangga yang sedang merayakan hari besar keagamaan, seperti Idulfitri maupun Natal.
Selain itu, ketika terdapat warga yang mengadakan kegiatan selamatan atau doa bersama, masyarakat sekitar turut berpartisipasi dan membantu tanpa membedakan agama maupun latar belakang. Bantuan tersebut dapat berupa menyiapkan hidangan, mendirikan tenda, maupun memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sikap toleransi, saling menghargai, dan kepedulian terhadap sesama telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kelurahan Muara Dua Barat.
Setelah pagi berlalu, aktivitas masyarakat mulai semakin ramai. Pada waktu inilah penerapan Sila Kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Saya sering melihat warga yang dengan sukarela menjenguk tetangga atau masyarakat sekitar yang sedang sakit, baik yang menjalani perawatan di Puskesmas maupun di rumah sakit yang berada di Kota Prabumulih. Mereka biasanya datang dengan membawa makanan, memberikan dukungan dan semangat, atau sekadar menemani agar orang yang sakit tidak merasa sendiri. Kepedulian tersebut diberikan tanpa membeda-bedakan latar belakang seseorang. Pedagang, buruh harian, pegawai negeri, maupun warga pendatang semuanya mendapatkan perlakuan yang sama. Masyarakat pendatang juga diterima dengan baik dan diperlakukan secara adil sebagaimana warga lainnya. Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terdapat perlakuan yang berbeda berdasarkan suku maupun kondisi ekonomi karena seluruh warga dianggap sebagai bagian dari satu keluarga.
Menjelang sore, semangat kebersamaan dan gotong royong mulai semakin terlihat. Hal tersebut mencerminkan penerapan Sila Ketiga, yaitu Persatuan Indonesia, yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muara Dua Barat. Setiap hari Sabtu pagi, warga secara rutin melaksanakan kegiatan kerja bakti untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari laki-laki dan perempuan hingga orang tua dan anak muda. Mereka bersama-sama membersihkan saluran air yang tersumbat oleh sampah, memangkas rumput di sepanjang jalan. Kerja bakti tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga. Saat kegiatan berlangsung, warga dapat saling berbincang, bercanda, bertukar cerita, serta berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang ada di lingkungan sekitar. Selain melalui kerja bakti, rasa persatuan juga diwujudkan melalui kegiatan ronda malam atau Siskamling yang dilaksanakan secara bergiliran. Setiap warga menyadari bahwa menjaga keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, kesibukan maupun rasa malas tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan tugas tersebut. Warga juga berusaha menjaga hubungan baik dengan tidak menyebarkan gosip, berita yang belum terbukti kebenarannya, maupun isu yang berkaitan dengan SARA karena hal tersebut dapat menimbulkan konflik dan merusak persatuan antarwarga.
Apabila terjadi permasalahan di lingkungan masyarakat, seperti perselisihan mengenai batas tanah, gangguan kebisingan yang ditimbulkan oleh kegiatan usaha warga, maupun konflik kecil yang melibatkan anak-anak, nilai Sila Keempat, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dapat menjadi dasar dalam menyelesaikannya. Masyarakat Muara Dua Barat memiliki kebiasaan menyelesaikan berbagai persoalan melalui musyawarah, baik yang dilaksanakan di balai kelurahan maupun di kediaman ketua RT. Dalam kegiatan tersebut, setiap warga memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang baik, sopan, dan tetap menghargai pendapat orang lain. Tidak ada pihak yang diperbolehkan memaksakan kehendaknya, karena setiap pendapat didengarkan dan dipertimbangkan bersama. Hasil keputusan ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama sehingga dapat diterima oleh seluruh pihak dengan sikap terbuka. Selain itu, dalam proses pemilihan ketua RT maupun lurah, masyarakat turut menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa pemimpin yang baik dapat terwujud melalui keterlibatan masyarakat dalam proses demokrasi.
Penerapan Sila Kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Di Muara Dua Barat, masyarakat memperoleh kesempatan yang sama dalam menggunakan berbagai fasilitas umum yang tersedia. Lapangan sepak bola dapat dimanfaatkan oleh anak-anak dan pemuda secara bergantian, sementara para ibu dapat membawa balita ke posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa biaya. Masyarakat juga dapat menikmati ruang terbuka hijau dan taman-taman kecil yang dirawat secara bersama-sama. Ketika musim kemarau menyebabkan sebagian sumur warga mengalami kekeringan, masyarakat yang masih memiliki persediaan air dari sumur yang lebih dalam dengan sukarela membantu memenuhi kebutuhan air tetangganya. Sikap tersebut menunjukkan adanya rasa kepedulian dan semangat berbagi di antara warga. Selain itu, masyarakat juga berupaya menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya serta memisahkan sampah organik dan anorganik. Upaya tersebut dilakukan karena lingkungan yang bersih dan sehat merupakan kebutuhan sekaligus hak yang harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.
Di malam hari, setelah lelah beraktivitas, kami masih menyempatkan diri untuk bersilaturahmi. Kadang hanya sekadar duduk-duduk di teras rumah sambil menikmati kopi dan berbincang ringan dengan tetangga. Dalam percakapan itu, nilai-nilai Pancasila terus mengalir; kami saling bertanya kabar, menawarkan bantuan jika ada yang kesulitan, atau sekadar berbagi cerita. Anak-anak pun dibiasakan untuk menyapa orang yang lebih tua, membantu pekerjaan rumah, dan bermain dengan rukun tanpa membeda-bedakan teman.