Implementasi Pancasila di Tempat Tinggal dan Kehidupan Sehari-hari

Minggu 20-09-2026,06:29 WIB

Nama : Yuri Bella Meisyari 

NIM : PO7124226174 

Lokus : Prabumulih 

Prodi : RPL D4 Kebidanan

Nama Dosen : Wendy Anugrah Octavian, S.Pd, M.Pd 

Mata Kuliah : Pancasila  

1. Implementasi Pancasila di Tempat Tinggal dan Kehidupan Sehari-hari 

Kehidupan sosial masyarakat di Kelurahan Muara Dua Barat, Kota Prabumulih, tidak dapat dipisahkan dari penerapan nilai-nilai Pancasila. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat secara tidak  langsung telah  menerapkan  berbagai  nilai  yang terkandung  dalam Pancasila melalui beragam kegiatan, baik sejak pagi hingga malam hari. Saya dapat merasakan secara langsung  bagaimana  nilai-nilai  Pancasila  menjadi  bagian  yang  melekat  dalam kehidupan sehari-hari. 

Aktivitas masyarakat di Muara Dua Barat pada pagi hari umumnya diawali dengan suasana yang bernuansa keagamaan. Lantunan azan dari masjid-masjid di sekitar pemukiman menjadi pengingat akan pengamalan Sila Pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Masyarakat yang beragama Islam bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat Subuh secara berjamaah. Sementara  itu,  warga  yang  memiliki  keyakinan  berbeda  tetap  menunjukkan  sikap  saling menghormati  dengan  memberikan  kesempatan  kepada  umat  Islam  untuk  menjalankan ibadahnya. Sikap toleransi juga terlihat ketika masyarakat saling memberikan ucapan selamat kepada tetangga yang sedang merayakan hari besar keagamaan, seperti Idulfitri maupun Natal. 

Selain itu, ketika terdapat warga yang mengadakan kegiatan selamatan atau doa bersama, masyarakat sekitar turut berpartisipasi dan membantu tanpa membedakan agama maupun latar belakang. Bantuan tersebut dapat berupa menyiapkan hidangan, mendirikan tenda, maupun memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sikap toleransi, saling menghargai, dan kepedulian terhadap sesama telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Kelurahan Muara Dua Barat. 

Setelah  pagi  berlalu,  aktivitas  masyarakat  mulai  semakin  ramai.  Pada  waktu  inilah penerapan  Sila  Kedua,  yaitu  Kemanusiaan  yang Adil  dan  Beradab,  dapat  terlihat  dalam kehidupan sehari-hari. Saya sering melihat warga yang dengan sukarela menjenguk tetangga atau masyarakat sekitar yang sedang sakit, baik yang menjalani perawatan di Puskesmas maupun di rumah sakit yang berada di Kota Prabumulih. Mereka biasanya datang dengan membawa makanan, memberikan dukungan dan semangat, atau sekadar menemani agar orang yang sakit tidak merasa sendiri. Kepedulian tersebut diberikan tanpa membeda-bedakan latar belakang  seseorang.  Pedagang,  buruh  harian,  pegawai  negeri,  maupun  warga  pendatang semuanya mendapatkan perlakuan yang sama. Masyarakat pendatang juga diterima dengan baik  dan  diperlakukan  secara  adil  sebagaimana  warga  lainnya.  Dalam  kehidupan bermasyarakat,  tidak  terdapat  perlakuan  yang  berbeda  berdasarkan  suku  maupun  kondisi ekonomi karena seluruh warga dianggap sebagai bagian dari satu keluarga. 

Menjelang sore, semangat kebersamaan dan gotong royong mulai semakin terlihat. Hal tersebut mencerminkan penerapan Sila Ketiga, yaitu Persatuan Indonesia, yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muara Dua Barat. Setiap hari Sabtu pagi, warga secara rutin melaksanakan kegiatan kerja bakti untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari laki-laki dan perempuan hingga orang tua dan anak muda.  Mereka  bersama-sama  membersihkan  saluran  air  yang  tersumbat  oleh  sampah, memangkas  rumput  di  sepanjang  jalan.  Kerja  bakti  tidak  hanya  bertujuan  menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga. Saat kegiatan berlangsung, warga dapat saling berbincang, bercanda, bertukar cerita, serta berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang ada di lingkungan sekitar. Selain melalui  kerja  bakti,  rasa  persatuan  juga  diwujudkan  melalui  kegiatan  ronda  malam  atau Siskamling yang dilaksanakan secara bergiliran. Setiap warga menyadari bahwa menjaga keamanan  lingkungan  merupakan  tanggung  jawab  bersama.  Oleh  karena  itu,  kesibukan maupun rasa malas tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan tugas tersebut. Warga juga berusaha menjaga hubungan baik dengan tidak menyebarkan gosip, berita yang belum terbukti kebenarannya,  maupun  isu  yang  berkaitan  dengan  SARA  karena  hal  tersebut  dapat menimbulkan konflik dan merusak persatuan antarwarga. 

Apabila terjadi permasalahan di lingkungan masyarakat, seperti perselisihan mengenai batas  tanah,  gangguan  kebisingan  yang  ditimbulkan  oleh  kegiatan  usaha  warga,  maupun konflik kecil yang melibatkan anak-anak, nilai Sila Keempat, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dapat menjadi dasar dalam menyelesaikannya. Masyarakat Muara Dua Barat memiliki kebiasaan menyelesaikan berbagai persoalan  melalui  musyawarah,  baik  yang  dilaksanakan  di  balai  kelurahan  maupun  di kediaman  ketua  RT.  Dalam  kegiatan  tersebut,  setiap  warga  memiliki  kesempatan  untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang baik, sopan, dan tetap menghargai pendapat orang lain. Tidak ada pihak yang diperbolehkan memaksakan kehendaknya, karena setiap pendapat didengarkan  dan  dipertimbangkan  bersama.  Hasil  keputusan  ditetapkan  berdasarkan kesepakatan bersama sehingga dapat diterima oleh seluruh pihak dengan sikap terbuka. Selain itu, dalam proses pemilihan ketua RT maupun lurah, masyarakat turut menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa pemimpin yang baik dapat terwujud melalui keterlibatan masyarakat dalam proses demokrasi. 

Penerapan Sila Kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga dapat dirasakan  dalam  kehidupan  masyarakat  sehari-hari.  Di  Muara  Dua  Barat,  masyarakat memperoleh  kesempatan  yang  sama  dalam  menggunakan  berbagai  fasilitas  umum  yang tersedia.  Lapangan  sepak  bola  dapat  dimanfaatkan  oleh  anak-anak  dan  pemuda  secara bergantian,  sementara  para  ibu  dapat  membawa  balita  ke  posyandu  untuk  mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa biaya. Masyarakat juga dapat menikmati ruang terbuka hijau dan taman-taman kecil yang dirawat secara bersama-sama. Ketika musim kemarau menyebabkan sebagian sumur warga mengalami kekeringan, masyarakat yang masih memiliki persediaan air dari sumur yang lebih dalam dengan sukarela membantu memenuhi kebutuhan air tetangganya. Sikap tersebut menunjukkan adanya rasa kepedulian dan semangat berbagi di antara warga. Selain itu,  masyarakat juga  berupaya  menjaga  kebersihan  lingkungan  dengan membuang sampah pada tempatnya serta memisahkan sampah organik dan anorganik. Upaya tersebut dilakukan karena lingkungan yang bersih dan sehat merupakan kebutuhan sekaligus hak yang harus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. 

Di  malam  hari,  setelah  lelah  beraktivitas,  kami  masih  menyempatkan  diri  untuk bersilaturahmi. Kadang hanya sekadar duduk-duduk di teras rumah sambil menikmati kopi dan berbincang ringan dengan tetangga. Dalam percakapan itu, nilai-nilai Pancasila terus mengalir; kami saling bertanya kabar, menawarkan bantuan jika ada yang kesulitan, atau sekadar berbagi cerita. Anak-anak pun dibiasakan untuk menyapa orang yang lebih tua, membantu pekerjaan rumah, dan bermain dengan rukun tanpa membeda-bedakan teman. 

Tags :
Kategori :

Terkait