BACA JUGA:Mantan Komandan IRGC Diangkat Jadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran
BACA JUGA:Presiden Iran Akui Sulit Komunikasi Temui Motjaba Khamenei, Namun Pertemuannya Produktif
Meskipun para pemimpin Iran menanggapi retorika keras AS dengan sikap acuh tak acuh, mengingat negara itu telah menghadapi sanksi selama beberapa dekade terakhir, namun sebagian warga Teheran khawatir akan merasakan dampaknya.
"Tentu saja, sanksi mempengaruhi kehidupan masyarakat. Orang-orang menderita, baik mereka yang berkecukupan secara finansial maupun mereka yang lemah secara finansial," ucap salah satu warga Iran, Mehdi Yazdian (55), yang berprofesi sebagai agen properti, seperti dilansir AFP, Rabu (26/8/2026).
Dia mendesak pemerintah Iran untuk mengendalikan harga. "Iya, sanksi-saksi ini memang berdampak, namun tentu saja, rakyat kami tangguh. Sanksi-sanksi ini sudah diberlakukan selama 47 tahun," ujar Yazdian.
BACA JUGA:Ancaman Trump Ditanggapi Serius Iran, Berpotensi Memicu Perang Dunia III
BACA JUGA:Trump Batalkan Serangan Habis-habisan ke Iran, ini Alasannya
Antrean panjang terlihat di beberapa pom bensin di area Teheran pada Selasa (25/8) waktu setempat, dengan deratan mobil dan motor harus menunggu untuk bisa mendapatkan bahan bakar.
Iran sendiri telah bergulat dengan lonjakan inflasi yang sangat tinggi sebelum perang pecah. Kondisi ini memicu unjuk rasa antipemerintah yang meluas secara nasional dan mencapai puncaknya pada Januari lalu, sebelum diredam oleh otoritas Teheran dengan penindakan keras yang dilaporkan menewaskan ribuan orang.
"Saya secara pribadi sama sekali tidak takut perang, karena ini adalah tanah air kami. Namun menurut saya, perang ini akan lebih bersifat ekonomi dan akan menimbulkan tekanan besar bagi masyarakat, sehingga mungkin akan kembali muncul aksi protes," ucap seorang warga Iran lainnya, Kia Farahani (45), yang berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris.
BACA JUGA:AS Lancarkan Serangan Habis-habisan ke Iran, Rudal Sasar Pemukiman
Ancaman Iran ke AS Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengancam akan menyetop ekspor minyak melalui kawasan Teluk, jika negara-negara di kawasan turut serta dalam operasi sanksi ekonomi terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran.
Berbicara kepada media pemerintah Iran, seperti dilansir Middle East Monitor, Rabu (26/8/2026), Rezaei mengatakan bahwa negara mana pun yang bergabung dengan langkah-langkah ekonomi Washington, akan dianggap sebagai "musuh" oleh Teheran.
Dia memperingatkan bahwa Iran dapat merespons dengan mengganggu ekspor energi regional.
"Jika mereka memulai tindakan semacam itu, kami tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun melintasi Teluk," tegas Rezaei dalam peringatannya.
BACA JUGA:Bertemu di Gedung Putih, Netanyahu Serahkan Urusan Iran ke Trump