BACA JUGA:Pusri Serahkan Bantuan Sarana Pendidikan Bagi Korban Kebakaran 1 Ilir Palembang
"Tapi intinya, insyaAllah gas ini memang tidak berbahaya karena secara manual tekanannya rendah," jelasnya.
Gas Metana Menumpuk di Sejumlah Barang
Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM, Dr Sarju Winardi, mengungkap gas metana di rumah Fia menumpuk di sejumlah barang.
Temuan itu didapat dari pengukuran suhu menggunakan kamera termal. Hasilnya menunjukkan titik-titik munculnya api berada di area dengan suhu yang relatif lebih tinggi.
Temuan itu didapat dari pengukuran suhu menggunakan kamera termal. Hasilnya menunjukkan titik-titik munculnya api berada di area dengan suhu yang relatif lebih tinggi.
BACA JUGA:Pusri Salurkan Bantuan Untuk Korban Kebakaran Di 1 Ilir Palembang
Menurut Sarju, sifat gas metana mirip dengan LPG yang biasa digunakan di rumah tangga. Namun, metana memerlukan konsentrasi tertentu sebelum dapat terbakar.
"Gas metana itu sebenarnya seperti kalau kita punya kompor LPG di rumah. Cuma dia lebih low release, kalorinya rendah. Butuh kadar yang lebih tinggi supaya dia menyala," ujarnya.
Karena itu, kata Sarju, gas metana yang keluar dari tanah diduga dapat terakumulasi pada benda-benda berpori di dalam rumah seperti pakaian, kain, hingga sofa.
"Kadang-kadang butuh waktu yang agak lama. Ngumpul di sofa, ngumpul di pakaian, di kain, itu dalam jumlah waktu yang cukup dia baru menyala," ungkapnya.
BACA JUGA:Rumah Terkepung Api, Anggota BPK Sempat Teriak Kebakaran
Ia menjelaskan, material berpori memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah tertentu. Jika akumulasinya cukup banyak, gas tersebut berpotensi memicu kebakaran.
"Yang punya pori seperti pakaian, sofa, itu dia akan menyimpan gas di situ. Nanti kalau jumlahnya cukup banyak, kena oksigen, menyala dia," katanya.
Cek Kandungan Gas dalam Air
Sarju juga mengatakan akan melakukan pengukuran ulang untuk mengetahui kandungan gas terutama di air dalam jalur pipa dan sumur yang sempat terbakar.