PPIH juga memetakan lokasi penempatan jemaah Indonesia di Mina. Sebagian besar jemaah ditempatkan di Zona 3 dan Zona 5 yang berada di sekitar Terowongan Muaisim.
Jemaah Indonesia akan terbagi dalam 61 markas atau maktab, mulai dari maktab kecil di wilayah bawah hingga maktab besar di wilayah atas.
BACA JUGA:Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Sukses Fasilitasi Embarkasi Haji 2026
BACA JUGA:Proses Pemberangkatan Kloter Rampung, 41 Kuota Haji Embarkasi Palembang Tahun 2026 Tak Terpenuhi
Selain layanan reguler, PPIH juga tengah memfinalisasi skema tanazul, yakni pola pergerakan jemaah yang langsung kembali ke hotel setelah melaksanakan lontar jumrah Aqobah.
Harun menyebut skema tersebut rencananya ditempatkan di Zona 5 dan masih dalam tahap perumusan sebelum diumumkan secara resmi kepada jemaah.
Sementara itu, untuk menjaga keselamatan dan mengurangi risiko kepadatan saat lontar jumrah, PPIH mengimbau jemaah tidak berpindah jalur maupun lantai secara sembarangan di area Jamarat.
"Bagi jemaah haji yang tinggal di tenda Mina, pelaksanaan jamarat diprioritaskan di lantai 3. Kami mengimbau setelah selesai melontar jumrah, jangan turun ke lantai bawah. Tanyakan kepada petugas di lokasi arah kembali ke tenda, karena jalurnya akan berputar keluar dan langsung masuk kembali ke Terowongan Muaisim," tegas Harun.
BACA JUGA:Jemaah Haji Asal Muara Enim Wafat di Makkah, Pemerintah Pastikan Hak Jemaah Diselesaikan
PPIH memperkirakan total jarak perjalanan pulang-pergi melalui dua Terowongan Muaisim menuju lokasi lontar jumrah mencapai sekitar 4,5 kilometer.
Karena itu, orientasi jalur, kesiapan petugas, hingga pengaturan arus pergerakan jemaah dinilai menjadi faktor penting agar pelaksanaan puncak haji berjalan aman dan lancar.
PPIH berharap kehadiran Timsus Mina dapat membantu mempercepat respons pelayanan, terutama bagi jemaah lansia dan sakit yang membutuhkan bantuan saat mobilitas tinggi di Mina.