SUMEKS.CO - Negara-negara Timur Tengah mulai melek dan memilih meninggalkan Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan Iran.
Hubungan militer AS dengan sekutu utamanya, Arab Saudi dan Kuwait, berada di persimpangan setelah kedua negara tersebut secara terang-terangan memblokir akses pangkalan dan wilayah udara bagi militer AS.
Keputusan drastis ini dipicu oleh sikap Washington yang meremehkan serangan presisi Iran terhadap Uni Emirat Arab sebagai "serangan kecil".
AS yang selama ini dianggap sebagai pelindung membuat Riyadh dan Kuwait merasa AS tidak bisa lagi diandalkan melindungi di kawasan Timur Tegah. Akibatnya, operasi "Project Freedom" yang digagas Donald Trump untuk membuka Selat Hormuz menjadi lumpuh total karena hilangnya dukungan logistik dan jalur udara krusial di kawasan tersebut.
BACA JUGA:Respons AS, Iran Hujani Kapal Militer Amerika Serikat dengan Drone-Rudal
BACA JUGA:Selat Hormuz Kembali Normal PascaSaling Serang Iran-AS
Meskipun Trump mengklaim kemenangan, analisis lebih dari seratus citra satelit mengungkap sedikitnya 228 bangunan dan peralatan militer AS di 15 lokasi Timur Tengah hancur akibat serangan drone asimetris Iran yang sangat presisi.
Kerusakan masif ini mencakup sistem pertahanan Patriot, hanggar, hingga jet tempur canggih dengan estimasi kerugian mencapai 50 miliar dolar AS.
Laporan rahasia CIA bahkan membantah klaim presiden dengan mengungkapkan bahwa Iran masih menyimpan 75 persen armada peluncur rudalnya dan mampu bertahan dari blokade ekonomi melalui jalur penyelundupan darat di Asia Tengah, membuktikan bahwa "tembok baja" AS tidak semematikan yang dikira. (dri)