Menimbang Kesiapan Pendidikan Anak dalam Arus Digital

Minggu 19-04-2026,15:40 WIB

Tingkat teknologi digitalisasi saat ini terasa seperti perlombaan yang tidak ada akhir, sangat cepat, luas, dan hampir tidak ada waktu untuk beristirahat sejenak. Teknologi digital telah bergerak dari menjadi sekadar tambahan menjadi bagian yang sangat penting dalam cara kita belajar, berkomunikasi, dan bahkan dalam pemahaman kita tentang realitas sejak awal pendidikan. 

Upaya untuk membentuk generasi yang terampil dalam hal digital terus berlanjut. Namun, di balik optimisme ini terdapat pertanyaan yang mengganggu dan tidak bisa diabaikan yang meliputi apakah masyarakat dan sistem pendidikan kita benar-benar siap untuk menghadapi gelombang perubahan yang terus bertambah ini?

Berdasarkan informasi dari situs resmi data dari Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025, menyatakan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia diperkirakan akan melebihi 80,66 persen dari total populasi. Hasil survei menunjukkan bahwa generasi muda terutama generasi Alpha merupakan kelompok pengguna paling aktif di berbagai saluran digital.

Angka 80,66 persen tersebut juga mencerminkan suatu hal penting, dunia digital kini telah menjadi arena yang berkembang bagi generasi muda. Dulu, pendidikan dan pembentukan karakter banyak terjadi di rumah dan sekolah, tetapi kini telah berubah sebagian besar berpindah ke layar. Di sinilah anak-anak membentuk preferensi, menginternalisasikan nilai-nilai, hingga merumuskan identitas mereka.  

BACA JUGA:PTPN I Regional 7 Dukung Pendidikan Berkelanjutan di Pagar Alam

BACA JUGA:PTBA Perkuat Pemulihan Psikologis dan Sarana Pendidikan Pascabanjir Sumatera

Saat generasi Alpha hadir sebagai kelompok yang paling aktif, yang menandakan bahwa tingkat keterlibatan mereka dengan dunia digital jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka terhubung dalam ritme yang tak terputus, di mana informasi hadir tanpa henti dan tanpa batas yang jelas. Dalam kondisi ini, memiliki akses terhadap teknologi digital belum cukup yang jauh lebih krusial adalah kemampuan untuk mengelola paparan tersebut demi menjaga kesejahteraan, tujuan, dan tidak kehilangan hubungan dengan realitas.

Sebenarnya, tingkat persiapan itu masih bervariasi. Beberapa sekolah telah berhasil mendapatkan akses internet yang stabil, dilengkapi dengan alat pembelajaran yang cukup, serta guru yang mulai terbiasa mencampurkan teknologi digital dalam metode mengajar mereka. Namun, di daerah tertentu, ada sekolah yang masih kesulitan mendapatkan sinyal, membagikan perangkat dalam jumlah terbatas, atau beradaptasi dengan perubahan yang cepat. 

Situasi yang sama juga terlihat pada siswa. Sementara beberapa dari mereka sudah mampu mengadopsi teknologi digital, namun ada banyak juga yang masih kurang berpengalaman di dunia digital dan tidak memiliki dukungan yang memadai. Perbedaan ini menunjukkan bahwa proses digitalisasi yang sangat cepat tidak selalu sejalan dengan tingkat kesiapan yang serupa.

Dalam mengeksplorasi fenomena ini, kita tidak dapat lagi melihat teknologi hanya sebagai sarana pembelajaran. Perspektif yang disajikan dalam ilmu komunikasi menunjukkan hal yang lebih krusial, teknologi berfungsi sebagai konteks yang mempengaruhi cara anak-anak berpikir dan berinteraksi. Konsep ini sejalan dengan gagasan-gagasan Marshall McLuhan tahun 1960-an melalui teori ekologi media yang menyatakan bahwa media lebih dari sekadar penyampai pesan, melainkan membentuk cara pemahaman akan pesan itu.

BACA JUGA:Cetak SDM Unggul, Pemkab Muara Enim Siapkan Beasiswa Pendidikan Kolaborasi Lintas Sektor Keagamaan

BACA JUGA:Cetak SDM Unggul, Pemkab Muara Enim Siapkan Beasiswa Pendidikan Kolaborasi Lintas Sektor Keagamaan

Ketika anak-anak menjelajahi dunia digital yang cepat, instan, dan sering kali mengganggu, cara mereka menerima informasi pun berubah menjadi lebih singkat, lebih reaktif, dan sering kali kurang mendalam.  Namun, dampaknya tidak hanya terbatas pada proses berpikir. Tetapi juga berdampak pada tindakan. Di sinilah teori pembelajaran sosial Albert Bandura tahun 1986 menjadi relevan. Anak-anak memperoleh pemahaman dengan meniru apa yang mereka lihat, dengar, dan alami setiap hari dalam dunia digital. Faktanya, tidak semua yang ada dalam ranah media digital patut dicontoh. 

Dari cara berkomunikasi yang berisiko hingga pola interaksi yang merusak, semuanya memiliki potensi untuk ditiru tanpa kesadaran.  Sebagai akibatnya, keadaan semakin kompleks. Hal ini bukan hanya mengenai seberapa baik anak-anak dapat memanfaatkan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut secara perlahan memengaruhi wawasan mereka tentang dunia.

Tanpa arahan yang baik, dunia digital dapat berubah menjadi “pengajar utama” yang tidak selalu menyajikan pelajaran yang bermanfaat. Pada titik ini, pendekatan menyeluruh seperti pendekatan seluruh sekolah menjadi sangat penting, tidak hanya untuk membekali keterampilan digital, tetapi juga untuk memastikan bahwa lingkungan komunikasi yang membentuk anak-anak tetap positif, terencana, dan penuh kasih sayang. 

Kategori :