Berdasarkan survei lembaga riset transportasi nasional, keamanan dan usia pakai baterai masih menjadi pertimbangan utama konsumen dalam membeli mobil listrik. Keunggulan ini membuat produk BYD terasa lebih siap untuk penggunaan jangka panjang.
Selain teknologi, dukungan kebijakan pemerintah juga memperkuat daya tarik BYD. Berdasarkan sumber Kementerian Keuangan Republik Indonesia, insentif fiskal dan kebijakan pajak untuk kendaraan listrik masih menjadi bagian dari strategi nasional mendorong adopsi EV.
BYD termasuk merek yang cepat menyesuaikan diri dengan regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri secara bertahap. Dampaknya terlihat pada harga jual yang semakin kompetitif dan biaya kepemilikan yang lebih terkendali menjelang 2026.
BACA JUGA:BYD U9 Xtreme Diluncurkan, Mobil Listrik 496 km/jam dengan Harga Miliaran dan Produksi 30 Unit Saja
Kesiapan jaringan layanan purna jual juga menjadi poin penting. Berdasarkan pernyataan resmi manajemen BYD Indonesia yang dikutip media ekonomi nasional, ekspansi diler dan pusat servis terus dilakukan di berbagai wilayah.
Ketersediaan layanan yang semakin luas membuat penggunaan mobil listrik terasa lebih praktis dan aman. Faktor ini sangat relevan bagi konsumen yang berencana menjadikan mobil listrik sebagai kendaraan utama mulai 2026.
Melihat keseluruhan data dan tren pasar, deretan tipe BYD menawarkan pilihan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang sangat beragam.
Dari mobil harian perkotaan, kendaraan keluarga, SUV modern, hingga MPV premium, BYD memiliki lini yang relatif lengkap dan siap pakai.
BACA JUGA:Strategi Jitu BYD Tembus Pasar Amerika, Tesla Was-Was di Kandang Sendiri!
BACA JUGA:Tesla Pangkas Harga Model 3 dan Model Y, BYD Makin Agresif Kuasai Pasar EV Global
Menyambut 2026, pilihan terhadap tipe BYD bukan lagi sekadar mengikuti tren, melainkan keputusan rasional berdasarkan kesiapan produk, teknologi, dan ekosistem yang terus berkembang.