Peta Politik Asia Kontemporer: Perbandingan Sistem Pemerintahan Singapura dan Indonesia

Minggu 30-11-2025,14:48 WIB

Oleh: Diah Salsabillah Program Studi: Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang. sasabiyaaa14@gmail.com


Diah Salsabillah Prodi: Ilmu Politik UIN Raden Fatah Palembang

Dalam membaca peta politik Asia kontemporer, Singapura dan Indonesia dapat dipandang sebagai dua contoh kontras yang merefleksikan beragamnya sistem pemerintahan dan budaya politik di kawasan ini.

Meskipun berada dalam lingkup geografis yang sama, keduanya berkembang melalui jalan politik yang berbeda, dipengaruhi oleh sejarah, budaya, dan kebutuhan strategis masing-masing. Analisis komparatif terhadap kedua negara ini penting untuk memahami kompleksitas dan keragaman politik Asia yang semakin dinamis.

Singapura: Stabilitas dan Efisiensi dalam Sistem Parlementer

Singapura dikenal sebagai negara-kota yang berhasil memanfaatkan sistem parlementernya untuk menciptakan pemerintahan yang stabil, efektif, dan berorientasi pada hasil.

Dalam sistem ini, Perdana Menteri memegang kendali eksekutif dan bertanggung jawab langsung kepada parlemen. Model ini memungkinkan koordinasi kebijakan yang baik, pengambilan keputusan yang cepat, serta pelaksanaan program pembangunan yang konsisten dan tepat sasaran.

Dominasi Partai Aksi Rakyat (PAP) sering menjadi sorotan karena dianggap menghambat kompetisi politik yang sehat.

Namun, dari perspektif lain, dominasi tersebut juga memberikan stabilitas yang menjadi landasan kuat bagi kemajuan Singapura dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan tata kelola pemerintahan. Ketertiban, konsistensi kebijakan, serta efisiensi birokrasi menjadi karakteristik utama politik Singapura yang menjadikannya model tata kelola modern di Asia.

Indonesia: Dinamika Demokrasi dalam Sistem Presidensial

Berbeda dengan Singapura, Indonesia mengadopsi sistem presidensial yang lebih cocok dengan karakter geografis, demografis, dan sosio-kulturalnya yang sangat kompleks. Dengan wilayah yang luas dan keberagaman etnis, agama, dan budaya, Indonesia membutuhkan sistem yang mampu menjamin stabilitas eksekutif sekaligus memungkinkan representasi politik yang luas.

Dalam sistem presidensial, presiden memiliki mandat dan masa jabatan yang relatif stabil, meskipun parlemen bersifat plural dan berubah-ubah. Hal ini menghadirkan dinamika politik yang “hidup”, penuh negosiasi, kompromi, dan koalisi.

Proses legislasi yang panjang, tarik-menarik kepentingan, serta pembentukan koalisi besar mencerminkan praktik demokrasi yang inklusif. Meskipun tidak selalu efisien, sistem ini memberikan ruang bagi keterlibatan publik dan keberagaman aspirasi masyarakat—nilai fundamental dalam demokrasi pluralistik.

Karakteristik Kontras: Dua Model, Dua Orientasi

Dari perspektif perbandingan, sistem politik Singapura dan Indonesia mencerminkan dua orientasi yang berbeda namun sama-sama relevan dalam konteks Asia kontemporer:

Kategori :