Bagi sebagian orang, selisih harga sekitar 300 dolar mungkin tidak terlalu berarti. Namun bagi dunia teknologi, hal ini menunjukkan bahwa Samsung mungkin berusaha menyeimbangkan inovasi dengan realitas pasar.
Artinya, meski Galaxy Z TriFold tetap berada di kelas premium, Samsung tampaknya ingin menjadikannya lebih dari sekadar gimmick teknologi, tetapi sebuah produk nyata yang bisa dijangkau setidaknya oleh kalangan enthusiast dan profesional.
Selain harga Galaxy Z Trifold yang tinggi, menariknya, Samsung kabarnya hanya akan menawarkan TriFold dalam satu pilihan warna dan satu varian penyimpanan. Tidak ada opsi memori besar, tidak ada versi “Ultra” atau “Plus”.
Hanya satu versi. Keputusan ini terasa sangat berbeda dari strategi Samsung yang biasanya menghadirkan banyak varian.
BACA JUGA:Samsung Galaxy Z Fold7: Ponsel Lipat Desain Tipis dan Usung Kamera 200MP
Ini memberi kesan bahwa perangkat ini bukan ditujukan untuk pasar massal, melainkan lebih ke arah perangkat showcase sebuah pernyataan teknologi.
Lalu, apa yang membuat Galaxy Z TriFold begitu spesial? Perangkat ini dikatakan memiliki layar utama 10 inci ketika dibentangkan sepenuhnya hampir seukuran tablet.
Saat dilipat, pengguna masih dapat menikmati layar cover 6,5 inci, cukup besar untuk aktivitas sehari-hari seperti chat, browsing, atau mengambil foto. Dengan mekanisme lipat tiga sisi, TriFold bukan sekadar “ponsel lipat lebih besar”, melainkan benar-benar mengubah bentuk sesuai kebutuhan.
Samsung disebut juga membekali perangkat ini dengan kamera utama 200MP, mirip dengan seri flagship Galaxy Ultra.
Artinya, Samsung tidak hanya ingin membuat perangkat dengan desain futuristik, tetapi juga memberinya kekuatan kamera kelas profesional.
Ada kemungkinan Galaxy Z TriFold akan menjadi perangkat favorit content creator, pekerja mobile, bahkan fotografer yang butuh layar besar tanpa harus membawa tablet atau laptop.
Soal daya tahan, Samsung rupanya tidak main-main. Galaxy Z TriFold dikabarkan memiliki baterai 5.437mAh, cukup besar untuk menopang tiga bagian layar sekaligus. Tentu saja, baterai besar ini sangat penting, mengingat perangkat lipat biasanya memiliki konsumsi daya yang lebih tinggi.
Namun, di balik semua spesifikasi mengesankan itu, ada pertanyaan besar: Apakah dunia sudah siap dengan smartphone tri-fold?
Perjalanan smartphone lipat sendiri sebenarnya tidak mudah. Generasi pertama Galaxy Fold sempat dikritik karena daya tahan layar dan engsel yang rapuh.
Tetapi dalam beberapa tahun, Samsung berhasil memperbaiki banyak kekurangan, hingga ponsel lipat kini menjadi pilihan nyata bagi banyak konsumen.