Banner Pemprov

Densus 88 Ungkap Faktor Anak Rentan Terpapar Ekstremisme, Ini yang Harus Diwaspadai

Densus 88 Ungkap Faktor Anak Rentan Terpapar Ekstremisme, Ini yang Harus Diwaspadai

Ancaman Ekstremisme pada Anak Jadi Perhatian, Densus 88 Perkuat Pencegahan di Sumsel--

PALEMBANG, sumeks.co- Upaya melindungi anak dari dampak jaringan kekerasan ekstremisme diperkuat di Sumatera Selatan.

Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) bersama Direktorat Idensos Densus 88 Anti Teror Polri mendorong terbentuknya mekanisme pemulihan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai prioritas.

Penguatan tersebut dibahas melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Membangun Mekanisme Pemulihan dan Resiliensi Anak Korban Jaringan Kekerasan Ekstremisme” di Palembang, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan melibatkan Direktorat Idensos Densus 88 Anti Teror Polri, Satgaswil Sumatera Selatan, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Kesbangpol Sumsel, serta perangkat daerah dari tingkat provinsi hingga sembilan kabupaten/kota.

Sejumlah unsur terkait ikut duduk bersama, mulai dari Kesbangpol, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, DP3A, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Forum tersebut menjadi ruang untuk memetakan kerentanan yang dihadapi anak, mengevaluasi tantangan penanganan di lapangan, serta memperkuat koordinasi dan sistem rujukan bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Densus 88 Soroti Kerentanan Anak

Direktur Idensos Densus 88 Anti Teror Polri sekaligus Deputi Bidang Deradikalisasi BNPT, Irjen Pol. Arif Makhfudiharto, S.I.K., M.H., menilai pencegahan paparan ekstremisme terhadap anak dan remaja membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

BACA JUGA:131 Calon Bintara SPN Polda Sumsel Dibekali Pencegahan Radikalisme oleh Densus 88

BACA JUGA:Modus Baru Terungkap! Densus 88 Minta Pelajar Waspadai Propaganda Radikal di Dunia Maya

Persoalan tersebut, menurutnya, tidak cukup dilihat sebatas perilaku individu.

Ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan kerentanan anak, seperti rasa tidak aman, keterasingan, perundungan, trauma, marginalisasi, hingga kebutuhan untuk mendapatkan penerimaan dan validasi dari lingkungan.

“Keberhasilan penanganan tidak hanya diukur berdasarkan jumlah konten ekstremisme yang berhasil dihapus, tetapi juga dari kemampuan seluruh ekosistem dalam melakukan deteksi dini, memberikan perlindungan, pemulihan psikososial, dan mencegah anak terjerumus ke dalam paparan ekstremisme,” ujar Arif.

Karena itu, pencegahan dan pemulihan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, sekolah, keluarga, psikolog, komunitas, dan lingkungan sosial memiliki peran masing-masing dalam membangun ruang yang aman bagi anak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait