Tony Saputra Dorong Collaborative Policing Hadapi Karhutla dan Ancaman Asap Lintas Batas ASEAN
Hadapi Karhutla dan Asap Lintas Batas, Tony Saputra Dorong Polri Perkuat Collaborative Policing--
PALEMBANG, SUMEKS.CO- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tidak lagi sekadar persoalan lingkungan atau bencana. Dampaknya telah meluas ke berbagai sektor, mulai dari keamanan, kesehatan masyarakat, perekonomian, penegakan hukum hingga kepentingan geopolitik Indonesia di kawasan ASEAN.
Perspektif tersebut disampaikan Tony Saputra, S.H., S.I.K., M.H., peserta didik SESPIMMEN Polri T.A. 2026, melalui karya tulis akademiknya berjudul “Penegakan Hukum terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan di Era Perubahan Iklim: Strategi Collaborative Policing dalam Menjaga Keamanan Lingkungan dan Kepentingan Geopolitik Indonesia di ASEAN.”
Dalam kajiannya, Tony mendorong perubahan pola penanganan karhutla. Menurutnya, pendekatan yang selama ini cenderung berorientasi pada penanganan setelah kebakaran terjadi perlu diarahkan menjadi sistem yang lebih prediktif, preventif, kolaboratif dan didukung scientific investigation.
Karakter karhutla yang kompleks membuat Polri tidak dapat bekerja sendirian. Penanganannya membutuhkan sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga terkait, BMKG, BNPB, dunia usaha, masyarakat, akademisi hingga media.
Karhutla Dinilai sebagai Ancaman Keamanan Non-Tradisional
Tony melihat karhutla sebagai bentuk ancaman keamanan non-tradisional karena konsekuensinya jauh melampaui kerusakan kawasan hutan dan lahan.
BACA JUGA:Jangan Tunggu Api Padam, Wakapolda Sumsel Instruksikan Penyidik Bergerak Cepat Usut Karhutla
BACA JUGA:Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Tim Mabes TNI Dampingi BNPB Tingkatkan Efektivitas Pencegahan
Kebakaran dapat mengganggu kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi dan kesehatan. Selain itu, kerusakan ekosistem, potensi konflik sosial serta kerugian negara juga menjadi bagian dari dampak yang harus diperhitungkan.
Persoalan menjadi semakin kompleks ketika asap hasil kebakaran bergerak mengikuti arah angin dan memasuki wilayah negara lain.
Dalam karya tulisnya, Tony menyoroti kondisi kawasan ASEAN pada Agustus 2026. Saat itu, ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) meningkatkan peringatan kawasan ASEAN bagian selatan ke Alert Level 3 setelah terdeteksi peningkatan aktivitas hotspot dan kondisi asap, termasuk indikasi asap lintas batas yang berasal dari wilayah Kalimantan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karhutla di Indonesia dapat berkembang menjadi persoalan regional.
Ketika kabut asap memasuki negara tetangga, dampaknya bukan hanya persoalan lingkungan dan kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan antarnegara serta kepentingan Indonesia di kawasan ASEAN.
Penegakan Hukum Karhutla Perlu Scientific Investigation
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

