Intelijen AS Nilai Motjaba Khamenei Tertarik Kembangkan Nuklir
Motjaba Khamenei.--
WASHINGTON DC, SUMEKS.CO - Intelijen Amerika Serikat (AS) diam-diam mengamati sifat Pemimpin Tertinggi Iran Motjaba Khamenei. Badan Intelijen AS menilai Mojtaba Khamenei, lebih terbuka terhadap pengembangan senjata nuklir dibandingkan ayahnya, Ali Khamenei.
Penilaian itu muncul di tengah pertimbangan Presiden Donald Trump untuk meningkatkan operasi militer terhadap Iran, yang dinilai dapat memperoleh pembenaran tambahan jika Teheran dianggap semakin dekat dengan ambisi memiliki bom nuklir.
Menurut sejumlah pejabat yang mengetahui hasil penilaian tersebut, sebagaimana dikutip The New York Times, Jumat (24/7/2026), Mojtaba tidak pernah secara terbuka menyerukan pembangunan senjata nuklir, namun ia bersama pemerintahan garis keras yang terbentuk setelah perang memiliki ambisi mengembangkan persenjataan nuklir yang lebih canggih.
BACA JUGA:Harga Minyak Dunia Rontok 6 Persen, AS dan Iran Hentikan Serangan, Pasar Langsung Bereaksi
BACA JUGA:Dukung Perundingan Diplomatik Teheran-Oman, AS Hentikan Serangan ke Iran
Hal itu berbeda dengan ayahnya yang selama bertahun-tahun diyakini enggan mengembangkan bom nuklir. Meski begitu, para pejabat AS mengingatkan bahwa sebagian besar informasi mengenai pandangan Mojtaba berasal dari sebelum perang.
Mojtaba sendiri dilaporkan mengalami luka serius pada fase awal perang dan kini membatasi komunikasi serta kemunculan publik, baik karena kondisi kesehatannya maupun untuk menghindari menjadi sasaran serangan udara.
Meski demikian, menurut The New York Times, ia dinilai masih memimpin pemerintahan, walaupun pengaruhnya belum sebesar sang ayah yang berkuasa lebih dari 36 tahun.
Program nuklir belum diaktifkan kembali
Pejabat AS menegaskan, Iran hingga kini belum memulai kembali program pengayaan uranium atau aktivitas lain yang terkait dengan program senjata nuklir.
BACA JUGA:3 Negara Ajukan Proposal Gencatan Senjata 10 Hari Kepada Iran-AS
BACA JUGA:Iran Perintahkan Houthi Tutup Laut Merah
Namun, Teheran diketahui telah mengambil langkah untuk mengamankan aset-aset nuklirnya setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir utama pada 2025.
Salah satunya dengan memindahkan sebagian sentrifus ke kompleks bawah tanah di Iran tengah, yang oleh AS disebut Gunung Pickaxe.
Menurut pejabat AS, langkah itu untuk saat ini lebih bertujuan melindungi peralatan nuklir dari serangan udara ketimbang memulai kembali pengayaan uranium.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


