Banner Pemprov

Tak Disangka, Ini Respon Iran Usai Diultimatum AS Buka Selat Hormuz Dalam Waktu 48 Jam

Tak Disangka, Ini Respon Iran Usai Diultimatum AS Buka Selat Hormuz Dalam Waktu 48 Jam

Iran siap menutup Selat Hormuz dan menyerang infrastruktur regional usai ultimatum Presiden AS Donald Trump--

Tak Disangka, Ini Respon Iran Usai Diultimatum AS Buka Selat Hormuz Dalam Waktu 48 Jam

Dubai, sumeks.co- Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkat tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali dalam 48 jam.

Merespons ultimatum tersebut, Iran menyatakan malah siap menutup totalSelat Hormuz. Sebuah jalur pelayaran strategis itu.

Bahkan Iran malahmemperingatkan akan menyerang infrastruktur energi, teknologi, serta fasilitas air di kawasan jika ancaman AS direalisasikan.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia, dengan sekitar seperlima pasokan global melintasi wilayah tersebut.

BACA JUGA:Iran Klaim Tembak Jet Siluman F-35 AS, Tapi Amerika Serikat Sebut Mendarat Darurat

BACA JUGA:Iran Ungkap Jalan Mengakhiri Perang dengan AS dan Israel, Apa Saja?

Penutupan jalur ini telah mengganggu lalu lintas kapal tanker dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga melancarkan serangan rudal ke 73  wilayah Israel selatan, termasuk kota dekat pusat penelitian nuklir di Dimona dan Arad.

Serangan tersebut menyebabkan puluhan orang terluka dan kerusakan pada bangunan permukiman.

Militer Israel mengakui tidak semua rudal berhasil dicegat, menandai eskalasi baru dalam konflik yang kini memasuki pekan keempat.

Sebelumnya, fasilitas nuklir Iran di Natanz dilaporkan terkena serangan, meski Israel membantah keterlibatan dalam insiden tersebut.

Badan energi atom internasional menyatakan tidak ada laporan kebocoran radiasi.

Ketegangan juga meluas ke kawasan lain, termasuk dugaan serangan Iran terhadap pangkalan militer bersama AS-Inggris di Diego Garcia.

Selain itu, negara-negara Teluk melaporkan serangan drone dan rudal yang meningkatkan kekhawatiran regional.

Konflik ini mulai berdampak global dengan naiknya harga energi dan gangguan distribusi minyak.

Sejumlah negara, termasuk Uni Emirat Arab dan negara-negara Eropa, menyerukan upaya bersama untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.

BACA JUGA:Viral, Pilot Amerika Menolak Menerbangkan Pesawat Penuh Senjata ke Israel

BACA JUGA:Trump Sebut Perang Iran Segera Berakhir, Ancam Serangan 20 Kali Lebih Keras ke Teheran

Militer AS dilaporkan menambah kekuatan di kawasan dengan mengerahkan kapal dan ribuan personel tambahan, sebagai langkah antisipasi terhadap eskalasi lebih lanjut.

Hingga saat ini, korban jiwa terus bertambah. Apalagi RS di Khuzestan Iran terbaru juga menjadi sasaran rudal Israel.

Iran melaporkan lebih dari 1.500 orang tewas, sementara di Israel tercatat belasan korban meninggal akibat serangan rudal.

Konflik antara kedua negara AS -Israel v Iran menunjukkan tanda-tanda belum mereda, dengan kedua pihak terus saling mengancam dan meningkatkan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah.

AS mengklaim Iran sudah melemah, 8000 tarrget serangan ke Iran berhasil.


Peran Selat Hormuz bagi urat nadi perekonomian dunia.--

Peran Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia.

Letaknya berada di antara Iran di bagian utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di bagian selatan.

Meski secara geografis tidak terlalu luas, Selat Hormuz memiliki peran yang sangat vital bagi perekonomian global.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap hari, menjadikannya sebagai salah satu titik penting distribusi energi internasional.

Kapal-kapal tanker dari negara-negara penghasil minyak di kawasan Timur Tengah melintasi selat ini untuk mengirimkan energi ke berbagai negara di Asia, Eropa, hingga Amerika.

Karena posisinya yang sangat strategis, Selat Hormuz kerap menjadi pusat perhatian dalam dinamika geopolitik dunia.

Setiap gangguan, baik berupa konflik militer maupun ancaman penutupan jalur, dapat berdampak langsung terhadap harga minyak global dan stabilitas ekonomi internasional.

Selain itu, jalur pelayaran di Selat Hormuz relatif sempit dan diatur dalam lintasan khusus, sehingga lalu lintas kapal menjadi sangat terkontrol dan padat.

Kondisi ini membuat kawasan tersebut semakin sensitif terhadap potensi gangguan keamanan.

Dengan segala perannya, Selat Hormuz tidak hanya sekadar jalur laut biasa, melainkan menjadi salah satu “urat nadi” utama dalam sistem distribusi energi dunia yang menentukan keseimbangan ekonomi global.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: