Banner Pemprov

Catur Iran: Ketika Wilayatul Faqih Mengubah Logika Kekuasaan

Catur Iran: Ketika Wilayatul Faqih Mengubah Logika Kekuasaan

Catur Iran: Ketika Wilayatul Faqih Mengubah Logika Kekuasaan--

Catur Iran: Ketika Wilayatul Faqih Mengubah Logika Kekuasaan

Oleh: Dr. Zailani. Ketua PW IJABI Sumsel 2008–2016

Dalam permainan catur klasik, tujuan utama adalah satu: mematikan raja lawan. Seluruh strategi, pengorbanan, dan manuver diarahkan pada titik itu.

Raja adalah pusat permainan. Jika raja jatuh, permainan selesai. Karena itu, pada awal permainan hampir mustahil langsung menyerang raja.

Para pemain catur memahami bahwa kemenangan hanya dapat dicapai melalui langkah-langkah yang terencana, pengorbanan bidak, dan pengaturan posisi yang matang.

Namun jika kita menggunakan analogi catur untuk memahami geopolitik Iran, kita akan menemukan satu hal yang sangat berbeda: Iran tidak bermain catur seperti negara lain.

Dalam sistem negara modern, pemimpin negara sering diposisikan seperti “raja” dalam catur.

Jika pemimpin itu jatuh dibunuh, digulingkan, atau dipermalukan maka sistem negara biasanya akan goyah.

Banyak negara runtuh karena kehilangan figur pemimpin. Kita menyaksikan hal itu dalam sejarah berbagai rezim di dunia.

Tetapi Iran memiliki struktur yang berbeda karena konsep Wilayatul Faqih.

BACA JUGA:Ketika Marja Kami Dibunuh: Renungan Seorang Syiah Indonesia

BACA JUGA:Iran Pilih Pemimpin Baru Usai Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, Majelis Ahli Ambil Peran Penting

Dalam sistem ini, kepemimpinan bukanlah personifikasi kekuasaan individu, melainkan representasi dari otoritas spiritual dan ideologis yang lebih besar: Islam itu sendiri.

Seorang Rahbar (Pemimpin Tertinggi) bukanlah “raja” dalam arti politik monarki.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: