Banner Pemprov
Pemkot Baru

Pahlawan Tanpa Seragam di Era Media Sosial

Pahlawan Tanpa Seragam di Era Media Sosial

Prof. Isna Wijayani-foto: dok-

 Oleh Isna Wijayani 

Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma Palembang.

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia kembali menundukkan kepala, mengenang perjuangan para pahlawan yang bertaruh nyawa demi  untuk memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Mereka  saat itu tahun 1945  berjuang dengan bambu runcing, semangat, dan doa. Pada 10 November 1945, pasukan Sekutu melancarkan serangan besar-besaran terhadap rakyat Surabaya setelah ultimatum mereka diabaikan.

Rakyat dari berbagai lapisan—pemuda, santri, dan pejuang bersatu melawan dengan semangat “Merdeka atau Mati!”. Tokoh penting seperti Bung Tomo membakar semangat perjuangan melalui siaran radio yang menggugah seluruh  rakyat  Indonesia. Namun zaman telah berubah. Kini, bentuk perjuangan tidak selalu hadir di medan pertempuran fisik.

Di era media sosial, semangat kepahlawanan menemukan wajah barunya. Kepahlawanan lebih sunyi, lebih sederhana, tetapi tetap berarti. saya sering melihat perjuangan  di sekitar tempat saya. Mahasiswa yang konsisten membuat konten edukatif di TikTok, guru yang membagikan bahan ajar gratis di Instagram, atau teman yang menenangkan suasana grup WhatsApp keluarga saat debat politik mulai memanas.

Mereka tidak memakai seragam, tidak mendapat penghargaan, namun di balik layar, mereka sedang berjuang mempertahankan kewarasan publik di dunia maya. Era digital membawa berkah luar biasa, tapi juga tantangan baru. Di antara banjir informasi, ada gelombang kebencian, hoaks, dan polarisasi. Sekali unggahan salah, dampaknya bisa meluas tanpa batas. Karena itu, menjadi pahlawan hari ini berarti berani menahan jari sebelum mengetik komentar yang menyakiti, berani menolak ikut menyebarkan berita yang belum tentu benar, dan berani menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan.

Hari pahlawan menjadi pengingat bagi seluruh bangsa bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan dan pengorbanan tanpa pamrih. Nilai-nilai yang diwariskan para pahlawan antara lain: Cinta Tanah Air dan Semangat Juang. Persatuan dan Gotong Royong. Pantang Menyerah dalam Membela Kebenaran.Pengabdian Tanpa Pamrih untuk Bangsa.

Kini pahlawan tanpa seragam  dan tidak berperang dengan senjata bukanlah sosok luar biasa. Ia bisa siapa saja — siswa yang menegur teman karena body shaming, warganet yang membela nilai kemanusiaan, atau ibu rumah tangga yang membuat konten tentang hidup sehat dan empati sosial. Dunia maya yang bising membutuhkan mereka: orang-orang yang memilih untuk tidak menambah kebisingan. Sebagai dosen komunikasi, saya sering berdiskusi dengan mahasiswa tentang etika digital dan literasi media.

Saya melihat semangat kepahlawanan itu masih hidup, hanya bentuknya yang berubah. Jika dulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing, kini perjuangan dilakukan dengan klik yang bermakna. Klik untuk berbagi ilmu, menyemangati sesama, atau mengoreksi informasi palsu dengan cara yang santun. Menjadi pahlawan digital tidak butuh pangkat atau sorotan. Yang dibutuhkan adalah integritas, empati, dan kesadaran bahwa setiap unggahan punya konsekuensi.

Pahlawan masa kini menjaga ruang digital agar tetap beradab; mereka tahu bahwa kata bisa menolong, tapi juga bisa melukai. Semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa seharusnya tidak berhenti di dunia nyata. Di ruang digital pun, gotong royong bisa hadir lewat saling dukung, saling edukasi, dan saling jaga. Kita bisa berjuang bersama, bukan dengan senjata, tapi dengan kebijaksanaan dalam berkomunikasi.

Refleksi Hari Pahlawan mengingatkan kita bahwa bangsa besar tidak hanya menghormati pahlawannya yang gugur, tapi juga menumbuhkan pahlawan-pahlawan baru yang berjuang di medan yang berbeda. Medan kita hari ini adalah media sosial. Dan perjuangan kita adalah memastikan ruang itu menjadi tempat yang sehat, inklusif, dan bermartabat.

Mari menjadi pahlawan tanpa seragam:yang menebar kebaikan tanpa pamrih, menjaga persaudaraan di tengah perbedaan,dan menyalakan semangat kemanusiaan melalui setiap kata yang kita bagikan. Karena di era digital ini, satu unggahan bisa menjadi pelita atau bara. Mau pelita yang menerangi atau bara api ..pilihan itu selalu ada di ujung jari kita. Selamat memperingati Hari Pahlawan. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: