Banner Pemprov

Dari Algoritma Naghom Menuju Algoritma Peradaban

Dari Algoritma Naghom Menuju Algoritma Peradaban

Melampaui Suara Merdu, Naghom sebagai Jalan Membangun Manusia Beradab--

Peta keilmuan transdisipliner ini memberikan pelajaran penting: naghom Al-Qur’an bukan seni yang terisolasi dari realitas. Ia dapat menjadi pintu masuk menuju kepekaan estetis, kecerdasan emosional, kedisiplinan intelektual, hingga pengembangan industri kreatif berbasis keagamaan.

Perspektif keislaman ini beririsan dengan teori psikologi modern. Albert Bandura (1977), melalui Social Learning Theory, menjelaskan bahwa manusia belajar dan membentuk perilakunya melalui pengamatan terhadap model dalam lingkungannya.

Implikasinya dalam ruang digital amat penting: model manusia seperti apa yang disuguhkan oleh algoritma media sosial hari ini?

Jika panggung digital didominasi figur yang mengejar popularitas melalui sensasi, pamer kemewahan, dan perilaku agresif, lingkungan belajar sosial kita menghadapi kemerosotan etis.

Namun, jika ekosistem digital dipenuhi qari yang beradab, ulama yang bernas, pengusaha yang jujur, dan inovator muda yang produktif, ruang digital dapat menjadi “sekolah peradaban” yang inklusif.

Realitas psikologis manusia modern di era informasi semakin kompleks ketika kita meninjau temuan Daniel Kahneman dan Amos Tversky mengenai heuristik, yaitu jalan pintas mental yang dapat memicu bias kognitif sistematis dalam pengambilan keputusan (Nobel Prize Outreach, 2002).

Di tengah kelelahan mental, kecemasan, dan kebosanan akibat arus modernitas, masyarakat cenderung mencari pelarian cepat. Dalam pembacaan atas studi antropologi budaya Clifford Geertz, dorongan keagamaan dapat dipahami sebagai salah satu respons manusia terhadap perubahan kehidupan modern.

Namun, dalam lanskap digital yang tidak tersaring, pencarian makna spiritual juga berlangsung berdampingan dengan godaan mengikuti dorongan impulsif yang merusak, seperti pornografi dan judi daring.

Manusia tidak selalu bertindak rasional. Judul yang provokatif, emosional, dan sensasional lebih mudah memantik respons daripada narasi ilmiah yang tenang.

BACA JUGA:Sah! Gus Main dan Syamsuddin Pimpin IKAPPI, Siap Satukan 32 Ribu Alumni Ponpes Al-Ittifaqiah

BACA JUGA:Wakil Menteri Koperasi RI Hadiri Haflah dan Wisuda Ponpes Al-Ittifaqiah, Berikan Pembekalan untuk Lulusan

Jika pengaturan ruang publik sepenuhnya diserahkan kepada algoritma komersial yang mengeksploitasi kerentanan psikologis manusia demi keuntungan finansial, kita membiarkan terjadinya kerusakan secara luas.

Karena itu, diplomasi naghom untuk peradaban harus berani mengambil langkah taktis: melakukan reorientasi teknologi.

Aspek komersial dan keindahan industri digital tetap dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan etika dan kemaslahatan ke dalam arsitektur algoritma.

Algoritma harus dirancang untuk bertanya bukan hanya “Apa yang paling banyak diklik?”, melainkan juga “Apa yang paling bermanfaat bagi kemanusiaan?”

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait