Banner Pemprov

Deskripsi Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Lingkungan Rumah dan Kehidupan Sehari-hari

Deskripsi Implementasi Nilai-Nilai Pancasila di Lingkungan Rumah dan Kehidupan Sehari-hari

--

Nama : Diana Fransiska 

NIM : PO7124226134 

Prodi : RPL S.Tr Kebidanan Poltekkes Palembang 

Lokus : Prabumulih 

Mata Kuliah : Pancasila 

Dosen Pengampu : Wendy Anugrah Octavian, S.Pd, M.Pd

Kehidupan bermasyarakat di Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan  menjadi bukti nyata bagaimana nilai-nilai luhur Pancasila hidup dan bernapas dalam keseharian warga. Di desa ini, setiap  suka dan duka tidak pernah dipikul sendirian,  melainkan  disangga  bersama  melalui  semangat  keagamaan,  kekeluargaan,  dan musyawarah yang mendalam. 

Ketika kabar duka menyelimuti salah satu warga, ikatan keimanan dan kebersamaan langsung tercipta tanpa perlu komando. Para bapak dan pemuda bergegas membawa cangkul menuju pemakaman untuk menggali lubang kubur, sementara warga lain sibuk membantu proses pengurusan jenazah dari memandikan hingga mengafani. Dimalam pertama setelah jenazah  dimakamkan  warga  Desa  Gumai  berkumpul  di  rumah  duka  atau  masjid  untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah, yang dilanjutkan dengan pembacaan surat Yassin serta tahlilan bersama demi memanjatkan doa terbaik bagi almarhum atau almarhumah hingga shalat Isya berjamaah. Rangkaian ibadah dan doa bersama ini dilakukan sampai malam ketujuh setelah jenazah dimakamkan, dan dilanjutkan malam ke dua puluh lima, empat puluh dan serratus hari. Rangkaian ibadah dan doa bersama ini merupakan wujud nyata pengamalan Sila Pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana landasan iman dan kesadaran akan kekuasaan Tuhan menjadi pendorong utama warga untuk saling menguatkan dalam doa. 

Rasa empati yang ditunjukkan warga selama masa duka tersebut juga menjadi cerminan Sila  Kedua  Pancasila,  Kemanusiaan  yang  Adil  dan  Beradab,  di  mana  setiap  warga memperlakukan sesamanya dengan penuh rasa kepedulian, kehangatan, dan penghormatan setinggi-tingginya. 

Kehangatan kebersamaan itu tidak hanya hadir saat duka, tetapi juga saat menyambut kebahagiaan. Sebelum pesta pernikahan digelar, tuan rumah menyelenggarakan tradisi malam musyawarah pembentukan panitia akad dan resepsi di rumah calon pengantin. Warga desa berkumpul untuk berdiskusi dan bermusyawarah mufakat guna membagi tugas, mulai dari bagian masak, sapu jagat (tim kebersihan dan perlengkapan), bagian mengatur lauk-pauk, bagian parkir kendaraan tamu, hingga penerima tamu. Musyawarah ini mencerminkan Sila Keempat  Pancasila,  Kerakyatan  yang  Dipimpin  oleh  Hikmat  Kebijaksanaan  dalam Permusyawaratan/Perwakilan,  di  mana  setiap  rencana  besar  dimusyawarahkan  bersama demi kelancaran acara. 

Semangat  gotong  royong  semakin  hidup  pada  malam  sebelum  resepsi  dimulai. Pemuda-pemudi Karang Taruna Desa Gumai berkumpul bersama di bawah tenda resepsi. Dengan penuh keceriaan, mereka membagi tugas mengelap peralatan makan seperti sendok, garpu, dan piring hidangan, serta telaten melipat tisu untuk penutup sendok. Suasana kerja bakti anak muda ini kian meriah karena diselingi acara karaoketan bersama di bawah remang lampu tenda, menciptakan keakraban antar-generasi. Momen berkumpul, bekerja sama, dan bersuka cita tanpa membeda-bedakan ini mencerminkan Sila Ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, yang menjaga ikatan tali silaturahmi serta regenerasi nilai kebersamaan pada pemuda desa. 

Tradisi khas yang melengkapi kebersamaan di Desa Gumai adalah tradisi "ngantar beras". Baik saat duka ,menjelang tahlilan hari ketujuh, maupun saat bahagia pada H-3 dan H-2 sebelum resepsi pernikahan, warga berbondong-bondong membawa beras, sembako, hingga ayam atau telur ke rumah tuan rumah. Aksi saling berbagi rezeki ini merupakan pengamalan Sila Kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang memastikan bahwa beban berat terasa ringan karena ditanggung bersama secara adil dan merata. 

Seluruh rangkaian tradisi dan kebiasaan di Desa Gumai tersebut membuktikan bahwa Pancasila bukanlah sekadar teori, melainkan napas kehidupan yang nyata. Melalui komitmen untuk  menjaga  iman  kepada  Tuhan,  memperlakukan  sesama  secara  manusiawi,  merawat persatuan hingga ke tingkat pemuda karang taruna, bermusyawarah, serta berbagi rezeki secara adil, warga Desa Gumai berhasil menjaga warisan luhur bangsa dari generasi ke generasi.(*) 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: