Implementasi Pancasila di Tempat Tinggal dan Kehidupan Sehari-Hari
--
NAMA : Septi Eka Amelia
NIM : PO7124226176
LOKUS : Prabumulih
PRODI : RPL D4 Kebidanan
NAMA DOSEN : Wendy Anugrah Octavian, S.Pd, M.Pd
MATA KULIAH : Pancasila
Kehidupan warga di Kelurahan Gunung Ibul Utara, terdiri dari berbagai suku seperti Batak, Jawa, Rambang dll, menunjukkan bahwa Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, benar-benar dijunjung tinggi. Meskipun warga memiliki agama dan keyakinan yang berbeda, mereka hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Setiap orang saling menghormati hak beribadah, tidak mengganggu jalannya peribadatan umat lain, serta menjaga ketertiban saat hari besar keagamaan berlangsung. Sikap toleransi ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat warga saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan tempat ibadah atau membantu kelancaran kegiatan keagamaan tetangga tanpa memandang perbedaan. Dengan demikian, nilai ketuhanan tidak hanya menjadi pengakuan lisan, tetapi telah menjadi fondasi kerukunan hidup bermasyarakat di lingkungan ini.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tampak nyata dalam kepedulian sosial warga Kelurahan Gunung Ibul Utara. Ketika ada tetangga yang sakit, terkena musibah, atau sedang kesulitan, warga dengan sigap memberikanbantuan tanpa harus diminta terlebih dahulu. Bantuan itu bisa berupa tenaga,makanan, obat, maupun dukungan moral. Yang lebih penting, pertolongantersebut diberikan tanpa memandang suku, agama, atau status sosial seseorang.Semua diperlakukan sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat yangsama. Sikap ini menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan telah menjadi kesadarankolektif untuk saling mengasihi dan menolong sesama.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, tercermin kuat dalam semangat gotongroyong dan kebersamaan warga. Kegiatan seperti membersihkan saluran air,memperbaiki fasilitas umum, dan kerja bakti lingkungan dilakukan bersama-sama tanpa membeda-bedakan asal-usul. Warga dari berbagai suku bahu-membahu demi kepentingan bersama. Begitu pula dalam kegiatan siskamling,setiap warga mendapatkan giliran yang sama untuk menjaga keamananlingkungan. Rasa senasib sepenanggungan ini membuat perbedaan suku danbudaya bukan menjadi penghalang, melainkan kekayaan yang mempereratpersatuan. Dengan menjaga kerukunan dan kekompakan, warga KelurahanGunung Ibul Utara telah menghidupkan nilai persatuan dalam kehidupan nyata.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaandalam Permusyawaratan/Perwakilan, diwujudkan melalui budaya musyawarahyang kuat. Setiap persoalan yang muncul di lingkungan RT/RW, seperti masalahkeamanan, kebersihan, atau kegiatan sosial, selalu dibicarakan bersama dalamrapat warga. Dalam forum tersebut, setiap orang berhak menyampaikanpendapat, usulan, dan aspirasinya. Keputusan yang diambil tidak ditentukansepihak, melainkan melalui kesepakatan bersama. Warga pun menerima hasilmusyawarah dengan lapang dada dan melaksanakannya dengan penuhtanggung jawab. Budaya ini menunjukkan bahwa nilai demokrasi Pancasila benar-benar tumbuh dari bawah, yaitu dari kehidupan bertetangga yang salingmenghargai pendapat.
Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, tergambar dari pemerataan tugas dan tanggung jawab di lingkungan Kelurahan GunungIbul Utara. Dalam kegiatan kebersihan dan keamanan, setiap warga mendapatkan porsi yang adil sesuai kemampuan dan kesepakatan bersama. Warga yang lebih mampu secara ekonomi juga tidak segan membantu tetangga yang kurang beruntung, baik melalui bantuan langsung, kegiatan sosial, maupun kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. Fasilitas umum digunakan bersama-sama dan dijaga bersama pula. Dengan cara ini, kesenjangan sosial dapat ditekan dan kesejahteraan bersama lebih terwujud. Pada akhirnya, nilai-nilaiPancasila di Kelurahan Gunung Ibul Utara bukan sekadar hafalan, melainkan telah menjadi napas kehidupan yang menciptakan lingkungan rukun, aman, adil, dan sejahtera bagi semua warga.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
