Menggugat Takdir Perempuan: Roehana Koeddoes
Jurnalis Perempuan Pertama Roehanna Koeddoes menggugat takdir.-foto:doksumeksco-
BACA JUGA:Gelorakan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: FJPI Sumsel Siap Gelar Workshop KBGO
Pertanyaan yang relevan hari ini bukan lagi soal penting atau tidaknya Roehana Koeddoes. Pertanyaannya adalah apakah benih yang pernah ditanam benar benar dirawat. Apakah pohon yang dibayangkan telah tumbuh rindang dan berbuah bagi semua perempuan, atau hanya dipetik namanya dalam peringatan seremonial.
Menggugat takdir bukan pekerjaan satu generasi. Takdir perempuan bukan hukum yang tak dapat diubah, melainkan teks sosial yang dapat direvisi. Setiap revisi membutuhkan keberanian untuk menolak batas yang diwariskan. Jika hari ini perempuan dapat menulis, memimpin redaksi, mendirikan media, dan menentukan arah opini publik, semua itu bukan hadiah. Semua itu adalah buah dari benih yang pernah ditanam dengan kesadaran dan keberanian.
Roehana Koeddoes bekerja dalam sunyi, tetapi gugatan yang diajukan terus bergema. Amai setia menjadi saksi perjalanan Roehana Koeddoes masih ada sampai sekarang untuk memastikan perjuangannya terus berjalan diera ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:













