Banner Pemprov

Innalillahi, Pak De Baryadi Berpulang: Dari Lapangan Hijau hingga Pesantren, Jejak Kebaikan Tak Terlupakan

Innalillahi, Pak De Baryadi Berpulang: Dari Lapangan Hijau hingga Pesantren, Jejak Kebaikan Tak Terlupakan

Kabar duka dari Sumsel, Pak De Baryadi wafat. Mantan manajer Sriwijaya FC dan tokoh PWNU dikenal dermawan.--

Innalillahi, Pak De Baryadi Berpulang: Dari Lapangan Hijau hingga Pesantren, Jejak Kebaikan yang Tak Terlupakan

Palembang, sumeks.co- H Baryadi berpulang ke rahmatullah. Kabar duka itu menyebar cepat di grup-grup WhatsApp pada Senin malam hingga Selasa pagi

Kalimat sederhana itu mengguncang bagi yang  membacanya. Dan sahutan jawapun bermunculan. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dr. H.M.C. Baryadi mengembuskan napas terakhir pada Senin, 2 Maret 2026, pukul 21.15 WIB di RS Hermina Palembang.

Sosok yang akrab disapa Pak Bar atau Pak De Baryadi itu pergi meninggalkan jejak panjang di dunia olahraga, seni budaya, hingga organisasi keagamaan di Sumatera Selatan (Sumsel).

Jenazah almarhum rencananya dimakamkan pada Selasa, 3 Maret 2026, di kompleks Pondok Pesantren Aulia Cendekia, Talang Jambe, Palembang.Ponpes yang diasuh oleh KH Hendra Zainuddin.

BACA JUGA:Upacara Kedinasan Iringi Kepergian Alex Noerdin, Herman Deru: Jasa Beliau Akan Dikenang

BACA JUGA:Dodi Reza Ungkap Pesan Terakhir Bapaknya, H Alex Noerdin Saat Masih Dirawat di Rumah Sakit


Dunia olahraga dan seni Sumsel berduka. Dr. Baryadi, sosok di balik kejayaan SFC, tutup usia.--

Sosok di Balik Kejayaan Sriwijaya FC (SFC)

Bagi pencinta sepak bola “wong kito”, nama Baryadi bukan sekadar tokoh. Ia adalah bagian dari sejarah emas Sriwijaya FC di Liga I Indonesia.

Namum tim kebanggan Sumsel ini kini (kompetisi liga 2 2025/26) berada di jurang degradasi, dan bakal terjum ke liga 3 musim depan

Sebagai manajer Sriwijaya FC (SFC) H Baryadi mengantar klub kebanggaan Sumatera Selatan itu meraih double winner pada 2007 , menjuarai Liga 1  Indonesia dan Copa Indonesia dalam satu musim.

Prestasi tersebut menjadikan Sriwijaya FC (SFC) sebagai klub pertama di Indonesia yang mencetak dua gelar bergengsi sekaligus.

Rekan-rekannya mengenang Baryadi sebagai manajer yang bukan hanya memikirkan strategi, tetapi juga kesejahteraan pemain.

Baryadi dikenal dekat dengan para pemain, hadir bukan sekadar sebagai pimpinan, tetapi sebagai orang tua bagi tim.

BACA JUGA:Kericuhan Pecah Usai Laga Derby SFC Vs Sumsel United: Pihak Keamanan Tunggu Keputusan Komdis PSSI

BACA JUGA:Agenda Putaran Ketiga Sriwijaya FC Dibayangi Rapor Buruk, Laskar Wong Kito Terpuruk di Dasar Klasemen Liga 2

“Beliau bukan hanya manajer, tapi pengayom,” kenang Ibnu salah satu sahabatnya. Bahkan tak segan memberikan hadiah langsung kepada pemain, seperti cincin emas.

Dan kalau soal traktir makanan usai menang atau kalah, hal yang biasa, tambah Ibnu.

Dari Petani ke Pengusaha Nasional

Perjalanan hidup Baryadi bukan kisah instan.

Lahir dari keluarga petani di Yogyakarta, ia menempuh jalan panjang sebelum dikenal sebagai pengusaha sukses.

Setelah lulus SMEA pada 1975, ia merantau ke Jakarta, bekerja sebagai sales hingga staf tata usaha.

Tahun 1979, ia pindah ke Lampung dan bekerja di koperasi simpan pinjam. Dari situlah benih kecintaannya pada dunia keuangan mikro tumbuh.

Pada 1987, ia menetap di Palembang dan mendirikan Koperasi Beringin, yang membantu masyarakat keluar dari jerat rentenir.

Langkah itu berkembang pesat. Ketika pemerintah membuka peluang pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pada 1988, ia mendirikan sejumlah BPR di berbagai daerah.

Perjalanan bisnisnya terus melebar: pembiayaan kendaraan, peternakan, perkapalan, hingga perhotelan.

Namun di balik kesuksesan itu, banyak orang mengenalnya sebagai sosok dermawan yang ringan tangan membantu.

Penggerak Seni Wayang di Sumsel

Di luar sepak bola dan bisnis, Baryadi adalah pecinta seni. Di kawasan Komplek Garuda, dekat kediamannya, ia mendirikan sanggar wayang.

Tak sedikit dalang kondang dari Jawa didatangkannya ke Palembang. ''Ia bahkan aktif berkolaborasi dengan pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Sumsel pada masanya,'' kata tokoh Pujasuma Sumsel Joko Imam Santoso.

Baginya, wayang bukan sekadar hiburan, tetapi warisan budaya yang harus dijaga.

Aktif di Organisasi Keagamaan

Di bidang keagamaan, Baryadi tercatat sebagai Wakil Bendahara PWNU Sumatera Selatan masa khidmat 2025–2030.

Ia dilantik dalam kepengurusan yang disahkan PBNU pada 17 Juni 2025 dan dikukuhkan pada 1 Juli 2025 di Griya Agung Palembang.

Dalam struktur kepengurusan tersebut, ia mendampingi Bendahara Ahmad Chofid bersama sejumlah wakil bendahara lainnya.

Rekan-rekannya di PWNU Sumsel mengenang Baryadi sebagai pribadi bersahaja yang lebih banyak bekerja dalam diam.

“Pak Baryadi, semoga husnul khatimah,” tulis Hendri Zainuddin, Wakil Sekretaris PWNU Sumsel.

Dermawan dan Rendah Hati

Di luar jabatan dan pencapaian, banyak orang mengenang satu hal: kebaikan hati Pak De Baryadi.

Ia dikenal suka membantu tanpa banyak bicara. Dalam berbagai kegiatan sosial, namanya sering muncul sebagai donatur, namun jarang terekspos.

Bagi masyarakat sekitar, ia bukan hanya tokoh publik, tetapi sosok yang mudah ditemui dan tak sungkan menyapa.

BACA JUGA:Kapolda Sumsel dan Ketua PWNU Sumsel Perkuat Moderasi Beragama di Palembang

BACA JUGA:Innalillahi, Try Sutrisno Meninggal Dunia di Usia 90 Tahun, Indonesia Kehilangan Wapres ke-6 RI

Warisan yang Lebih dari Sekadar Prestasi

Kepergian H Baryadi meninggalkan duka mendalam bagi dunia olahraga, seni, dan organisasi kemasyarakatan di Sumatera Selatan.

Namun lebih dari itu, ia meninggalkan teladan: bahwa kesuksesan bisa berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

Dari lapangan hijau hingga pesantren, dari koperasi desa hingga panggung wayang, jejak langkahnya tersebar luas.

Kini, Palembang kehilangan satu lagi tokoh yang menjadi bagian dari denyut sejarahnya.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.

Semoga almarhum H Baryadi mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: