Banner Pemprov
Pemkot Baru

Usai Tabayun di MUI, Ini Saran Ulama kepada Komika Pandji Pragiwaksono

Usai Tabayun di MUI, Ini Saran Ulama kepada Komika Pandji Pragiwaksono

MUI Beri Masukan ke Pandji Pragiwaksono Usai Polemik Materi Stand Up Comedy--

Pandji menegaskan bahwa sebagai seorang kreator, introspeksi merupakan bagian penting dalam proses berkarya.

Ia menyadari bahwa karya yang disampaikan ke publik, terutama yang bersinggungan dengan isu sensitif seperti agama, memerlukan kehati-hatian lebih agar tidak menimbulkan kegaduhan.

“Saya sadar sebagai orang yang berkarya, selalu ada ruang untuk bisa lebih baik lagi, lebih benar lagi. Itu yang diingatkan oleh Pak Kiai, dan saya sangat berterima kasih,” katanya.

Pandji juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memiliki niat (mens rea) untuk menciptakan kegaduhan atau keresahan di tengah masyarakat.

Menurutnya, komedi sejatinya ditujukan untuk menghibur, bukan melukai perasaan atau keyakinan pihak tertentu.

Sementara itu, Prof. KH. Asrorun Ni’am Sholeh menjelaskan bahwa pertemuan dengan Pandji merupakan bagian dari mekanisme tabayun yang menjadi prinsip penting dalam Islam, khususnya ketika terjadi polemik di ruang publik.

Tabayun, menurutnya, diperlukan agar setiap persoalan dapat dilihat secara utuh dan tidak disimpulkan secara sepihak.

“Hari ini kita menerima silaturahmi dari Bang Pandji bersama teman-teman untuk tabayun atas masalah yang sempat ramai dan menjadi perhatian publik. Informasi tabayun ini penting sebagai bagian dari proses MUI dalam memberikan panduan keagamaan kepada masyarakat,” ujar Prof. Ni’am.

Ia menegaskan bahwa MUI tidak dapat mengambil sikap hanya berdasarkan potongan video atau cuplikan materi yang beredar di media sosial.

Oleh karena itu, MUI perlu mendengarkan langsung penjelasan dari pihak terkait serta memahami konteks keseluruhan pertunjukan.

“Dalam memberikan pandangan keagamaan, MUI harus bersikap adil dan proporsional. Konteks utuh menjadi sangat penting agar tidak terjadi kesimpulan yang keliru,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, MUI menyampaikan sejumlah saran kepada Pandji, terutama terkait pentingnya sensitivitas terhadap materi yang bersinggungan dengan isu keagamaan.

Prof. Ni’am menyebut bahwa kebebasan berekspresi harus diiringi dengan tanggung jawab moral dan sosial, terlebih di masyarakat yang majemuk seperti Indonesia.

BACA JUGA:AKHIRNYA KPI Jatuhkan Sanksi Kepada Indosiar, Terkait Syiar Kalimat Tauhid Dijogetin di Dangdut Academy 7

BACA JUGA:DJKI Tanggapi Fatwa MUI Jatim Terkait Penggunaan Sound Horeg

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: