Banner Pemprov

Urutan Tetralogi Buru Series by Pramoedya Ananta Toer: 4 Karya Fiksi Sejarah Terkenal dengan Bumi Manusia

Urutan Tetralogi Buru Series by Pramoedya Ananta Toer: 4 Karya Fiksi Sejarah Terkenal dengan Bumi Manusia

Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer--

SUMEKS.CO - Berikut adalah urutan Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer mulai dari yang pertama dirilis sampai yang terakhir. 

Pramoedya Ananta Toer atau juga kerap disapa Pram adalah salah satu penulis legendaris Indonesia yang karya-karyanya sudah terkenal luas di khalayak. 

Karyanya yang paling populer adalah sebuah tetralogi yang dikenal dengan nama Tetralogi Buru, atau sering juga disebut Tetralogi Pulau Buru

Penamaan Tetralogi Buru ini dibuat karena karya-karya tersebut ditulis oleh Pram ketika dirinya diasingkan di Pulau Buru. 

BACA JUGA:Bank Sumsel Babel Tetapkan Pembagian Dividen Rp302,9 Miliar dalam RUPS Tahunan Tahun Buku 2025

BACA JUGA:Buku Karya Dosen Universitas Bina Darma Terbit di Perpusnas RI, Revitalisasi Sastra Klasik untuk Generasi Muda

Tetralogi Buru mengisahkan pergerakan kebangkitan nasional Indonesia antara tahun 1898-1918, mengikuti perjalanan seorang intelek pribumi bernama Minke dalam perjuangannya melawan kolonialisme Belanda. 

Urutan Tetralogi Buru Seri Buku Karya Pramoedya Ananta Toer


Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer--

Berikut adalah urutan Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer mulai dari yang pertama dirilis sampai yang terakhir untuk memudahkan pembaca dalam mengikuti rangkaian kisahnya. 

Bumi Manusia (1980) 

Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru. Buku ini mengikuti perjalanan Minke, anak laki-laki yang pandai menulis. Meski pandai, Minke kurang disukai karena ia seorang pribumi. 

BACA JUGA:Tingkatkan Kualitas Pembelajaran, Dosen Teknik Elektro Universitas Bina Darma Susun Buku Ber-ISBN

BACA JUGA:UBD Kupas Fenomena Bahasa Gaul Lewat Bedah Buku dalam BIDAR Sritures Award 2026

Sebagai putra bupati, Minke memiliki privilese untuk bersekolah di HBS (Hoogere Burgerschool), sekolah yang didirikan pada masa kolonial Belanda di Indonesia. Pada saat itu, hanya anak-anak Eropa, Tionghoa, dan kalangan elit pribumi yang bisa bersekolah di sana. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: