Banner Pemprov

Respons Arab Saudi, Houthi Blokade Laut

Respons Arab Saudi, Houthi Blokade Laut

Kapal tanker di Laut Merah yang diserang Kelompok Houthi.--

Selain meluncurkan rudal, Houthi turut mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh maskapai penerbangan agar tidak menggunakan ruang udara Arab Saudi sampai "pengepungan" terhadap Bandara Sanaa dicabut.

Namun, narasi berbeda disampaikan oleh Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung oleh Arab Saudi. 

BACA JUGA:AS Blokade Pelabuhan Iran, Terapkan Tarif 20 Persen Kargo

BACA JUGA:Dolar AS Melonjak Usai Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Ikut Meroket

Pihak pemerintah menegaskan bahwa pasukan merekalah, bukan Arab Saudi, yang menggempur landasan pacu Bandara Sanaa.

Langkah itu dilakukan untuk menghadang pesawat asal Iran agar tidak mendarat. 

Pemerintah Yaman menuding Teheran telah melanggar kedaulatan negara dan memperingatkan bahwa setiap pesawat musuh yang memasuki ruang udara Yaman akan ditindak dengan segala sarana yang ada.

Para pejabat kemudian mengonfirmasi bahwa pesawat Iran tersebut akhirnya memutar arah dan mendarat di Bandara Hodeidah yang terletak di pesisir Laut Merah. 

BACA JUGA:AS Umumkan Serangan Baru ke Iran

BACA JUGA:Ketua Parlemen Iran: Mengakhiri Perang Adalah Prioritas Bagi Negara di Dunia

Rekam jejak konflik 

Aksi saling serang ini resmi mengakhiri ketenangan relatif di sepanjang perbatasan Arab Saudi-Yaman yang dijaga sejak gencatan senjata tidak resmi disepakati pada Maret 2022. 

Sejak gencatan senjata 2022, Arab Saudi sebagian besar memilih menghindar dari konfrontasi langsung dengan Houthi. Peningkatan eskalasi ini berpotensi kembali mengancam jalur pelayaran vital dunia serta infrastruktur energi regional.

Yaman sendiri telah terjerat dalam perang saudara selama lebih dari satu dekade. 

Konflik bermula ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014, yang kemudian memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015 untuk mendukung pemerintah sah.  Pertempuran berkepanjangan selama bertahun-tahun ini telah melahirkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. (dri)

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: