Trump Beri Deadline Iran Buka Selat Hormuz hingga Selasa Malam, Opsi Militer Disiapkan

Trump Beri Deadline Iran Buka Selat Hormuz hingga Selasa Malam, Opsi Militer Disiapkan

Ultimatum Trump: Iran Harus Buka Selat Hormuz atau Hadapi Serangan--

Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz Hingga Selasa Malam atau Hadapi Serangan

SUMEKS.CO- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menetapkan batas waktu tegas kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa pukul 20.00 waktu setempat.

Ultimatum Presiden AS tersebut disertai ancaman tindakan militer jika tidak dipenuhi. Namun banyak yang memprotes ultimatum AS, karena Hormuz adalah teritorial Iran.

Pernyataan iancaman Trump disampaikan pada Senin, di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung terkait proposal gencatan senjata antara kedua pihak.

Trump menilai usulan yang ada merupakan langkah awal, namun belum cukup untuk meredakan konflik.

Poltiikus Partai Republik ini menegaskan bahwa kegagalan Iran memenuhi tenggat waktu tersebut akan berujung pada serangan besar-besaran yang menargetkan infrastruktur strategis, termasuk jembatan dan pembangkit listrik Iran.

BACA JUGA:Tak Disangka, Ini Respon Iran Usai Diultimatum AS Buka Selat Hormuz Dalam Waktu 48 Jam

BACA JUGA:Trump Ancam Serangan Lebih Keras ke Iran, Intensif dalam 2-3 Pekan, Harga Minyak Dunia Melonjak

Sementara itu, Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan mediator. Teheran menyatakan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup penghentian total seluruh aksi permusuhan. 

Iran dengan drone dan rudalnya terus menggempur Israel dan pangkalan militer AS di Quwait dan negara timur tingah.

Di tengah ketegangan tersebut, proses diplomasi masih terus dilakukan dengan melibatkan sejumlah negara kawasan, termasuk Pakistan.

Namun hingga kini, belum ada kesepahaman mengenai mekanisme penghentian konflik.

Pihak Gedung Putih belum mengungkap secara rinci langkah yang akan diambil, meski Trump menyatakan bahwa opsi militer telah disiapkan.

Ultimatum pembukaan Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perkembangan konflik, sekaligus penentu arah langkah selanjutnya antara jalur diplomasi atau eskalasi militer.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait