Tokoh Islam Diasingkan, Lahirlah Jong Islamieten Bond

Rabu 28-10-2026,07:39 WIB
Reporter : Dendi Romi
Editor : Dendi Romi

JAKARTA, SUMEKS.CO - Sejarah perjuangan Bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaan, melibatkan banyak pihak dan organisasi. Mulai dari pergerakan pemuda hingga kaum pemuda agamawan atau tokoh agama.  

Salah satunya adalah Jong Islamieten Bond, organisasi yang menjadi wadah semangat pelajar dan pemuda Islam dalam membangun kesadaran beragama dan bernegara.

Simak sejarah singkat Jong Islamieten Bond dalam ulasan berikut ini.

Sejarah Berdirinya Jong Islamieten Bond

Merangkum buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, Jong Islamieten Bond (JIB) didirikan oleh R Sjamsoeridjal pada 5 Jumadil Akhir 1343 H atau Kamis Pon, 1 Januari 1925. Pendirian organisasi Islam ini terjadi pasca peristiwa penangkapan dan pembuangan ulama seperti Oemar Said Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, dan Wignjadisastra oleh pemerintah kolonial Belanda.

BACA JUGA:Ratu Dewa Dorong Pondok Pesantren Mahad Robbani Palembang Untuk Perkuat Peran Dalam Syiar Dan Dakwah Islam

BACA JUGA:Sekda Palembang Ajak Seluruh Umat Islam Menjadikan Maulid Nabi Sebagai Momentum Spiritual

Atas dasar itulah munculnya organisasi JIB justru menunjukkan kebangkitan semangat perjuangan pelajar dan pemuda umat Islam yang tidak takut atas tindakan penjajah.

Bahkan ketika penangkapan dan pembuatan para ulama masih terjadi hingga tahun 1926, JIB berani mengadakan kongres pertama di Yogyakarta, pada akhir Desember 1925 dan disusul pelaksanaan kongres kedua di Surakarta pada akhir 24-26 Desember 1926.

Tujuan Jong Islamieten Bond

Mengutip buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 yang disusun oleh Abdurakhman dan Arif Pradono, JIB merupakan organisasi yang fokus utamanya pada bidang sosial. Kendati tidak terlibat dalam aksi politik, JIB tidak melarang anggotanya untuk aktif dalam ranah politik.

BACA JUGA:Syarikat Islam di Persimpangan: Membela Ekonomi Rakyat atau Bertahan dalam Kenangan?

BACA JUGA:Hukum Berkhitan Bagi Kaum Perempuan, ini Penjelasannya Dalam Islam

Organisasi JIB berdiri atas dua tujuan, yang pertama adalah untuk memperdalam pengetahuan mengenai agama Islam dan memupuk rasa sayang terhadap Islam, serta para penganutnya di samping toleransi terhadap golongan non-Islam. Kedua, JIB menjadi tempat bagi organisasi "nasionalistis" lainnya yang berbeda-beda dan rekan-rekan pemuda-pemudi Indonesia untuk bertemu dalam satu bidang di bawah kewajiban dan tujuan yang sama, yakni persatuan.

Perkembangan Jong Islamieten Bond

Dalam perkembangannya, JIB juga berhasil membangun sayap organisasi yang dinamakan Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling (JIBDA) pada 1925 serta National Islamitische Padvinderij (Natipij) pada 1927.

Pelaksanaan kongres di Yogyakarta dan Surakarta menjadi jawaban JIB dan JIBDA terhadap gerakan Javanisme atau Kedjawen, sekaligus tempat Persjarikatan Moehammadijah mengawali gerakan Islam.

Melalui pergelaran kongres ketiga di Yogyakarta pada 1927, organisasi ini membahas masalah Islam dan kebangsaan. Pertemuan ini juga dilakukan untuk diskusi merumuskan pengertian nasionalisme dalam pandangan Islam yang mencakup cinta Tanah Air, bangsa, agama, serta kecintaan terhadap saudara seagama di luar negeri dan sesama manusia.

Kategori :