Edukasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melindungi diri sendiri, pasangan, dan keluarga dari risiko penularan HIV/AIDS.
Selain membahas HIV/AIDS, Irma Suryani juga menyosialisasikan berbagai pilihan alat dan metode kontrasepsi yang dapat digunakan dalam program keluarga berencana (KB).
Beberapa metode yang dijelaskan meliputi pil KB, implan atau susuk, metode kontrasepsi mantap atau sterilisasi, alat kontrasepsi dalam rahim (IUD), serta suntik KB.
Melalui sosialisasi tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pilihan kontrasepsi yang tersedia dan dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan metode yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Menurutnya, program keluarga berencana bukan hanya berkaitan dengan pengaturan jumlah anak, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang sehat, sejahtera, dan terencana.
Dalam kegiatan fasilitasi teknis Bangga Kencana di Martapura, Irma Suryani turut menyoroti pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan anak-anak.
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan nutrisi sejak masa kehamilan merupakan salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Ia menyarankan agar telur ayam diberikan secara rutin, minimal tiga kali dalam seminggu, terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil.
Selain itu, konsumsi sayuran dan buah-buahan juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Irma juga mengingatkan pentingnya ketersediaan air bersih dan pemeriksaan kehamilan secara berkala di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Ketersediaan air bersih dan periksakan kehamilan ke puskesmas minimal dua bulan sekali,” imbaunya.
Ia menambahkan, pemberian vitamin sesuai kebutuhan serta pemenuhan asupan gizi yang cukup perlu diperhatikan untuk membantu mencegah kekurangan gizi dan menurunkan risiko stunting. Susu juga dapat menjadi pelengkap asupan gizi apabila sesuai dengan kebutuhan ibu dan anak.
Upaya pencegahan stunting, lanjutnya, membutuhkan perhatian bersama, mulai dari keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, hingga pemerintah.
Pemenuhan gizi yang baik perlu dilakukan secara berkelanjutan, disertai pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Sementara itu, Penata KKB Ahli Muda BKKBN Sumatera Selatan, M Jumliadi SIP MSi, menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama yang terjadi sejak periode awal kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dibandingkan standar usianya. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan perkembangan kognitif dan kemampuan belajar apabila disertai gangguan gizi dan faktor lain yang memengaruhi tumbuh kembang.