Selain itu, hindari mengikuti kendaraan hanya dengan mengandalkan lampu belakangnya. Tetap perhatikan kondisi jalan dan lingkungan sekitar.
6. Hindari Menyalip Sembarangan
Jarak pandang yang pendek membuat manuver menyalip menjadi jauh lebih berisiko.
Pengendara tidak dapat mengetahui dengan jelas apakah ada kendaraan dari arah berlawanan atau rintangan lain di depan.
Karena itu, tahan keinginan untuk menyalip jika kondisi tidak benar-benar aman.
Lebih baik terlambat sampai tujuan daripada mengambil risiko yang dapat membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.
7. Berhenti Jika Pandangan Sudah Terlalu Terbatas
Ini merupakan langkah paling penting. Jika kabut asap semakin tebal hingga pengendara sulit melihat jalan dan kendaraan lain, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk terus berkendara.
Cari tempat berhenti yang aman, jauh dari badan jalan dan tidak mengganggu lalu lintas.
Jangan berhenti mendadak di tengah jalan karena dapat membahayakan kendaraan dari belakang.
Perjalanan dapat dilanjutkan setelah kondisi membaik dan jarak pandang sudah cukup aman.
8. Perhatikan Kondisi Tubuh
Paparan asap dapat membuat mata perih, berair, tenggorokan terasa tidak nyaman hingga menyebabkan pusing atau sesak.
Jika mulai merasakan gangguan tersebut, segera hentikan perjalanan dan mencari tempat dengan udara yang lebih bersih.
Jangan memaksakan berkendara ketika kondisi tubuh sudah tidak prima karena konsentrasi dan kemampuan bereaksi dapat menurun.
Pada akhirnya, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan dan risiko kecelakaan.