Penghargaan Bhakti Adipustaka 2026 menjadi bagian dari Festival Literasi Sumatera Selatan 2026 yang mengusung tema “Literasi Bersinar, Peradaban Mengakar”.
Festival tersebut dibuka Herman Deru di The Sultan Convention Center, Palembang, Sabtu 5 September 2026.
Herman Deru mengatakan kemajuan teknologi, termasuk AI, harus diimbangi dengan kemampuan literasi. Menurut dia, masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu memahami dan menyaring informasi yang diterima.
BACA JUGA:FJPI Jalin Kerjasama dengan Hukumonline: Perkuat Literasi dan Perlindungan Hukum Jurnalis Perempuan
“Teknologi harus kita manfaatkan secara optimal, salah satunya penggunaan AI. Tetapi, kemajuan teknologi harus dibarengi dengan literasi,” kata Herman Deru.
Ia mengatakan penguatan literasi merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, sekolah, guru, perpustakaan, komunitas, tokoh masyarakat, dan keluarga memiliki peran dalam membangun budaya literasi.
Herman Deru menyebut Indeks Kegemaran Membaca (IKM) Sumatera Selatan telah mencapai 86 dan menempatkan provinsi tersebut di peringkat ketiga nasional.
Sumatera Selatan juga meraih peringkat pertama Financial Literacy Award 2026 kategori pemerintah daerah dengan program literasi keuangan terbaik dari Otoritas Jasa Keuangan.
BACA JUGA:Bekali 569 Siswa Baru, Kanwil Kemenkum Sumsel Tanamkan Literasi Hukum Siswa SMKN 6 Palembang
Menurut Herman Deru, capaian tersebut merupakan hasil dari gerakan literasi yang dibangun secara konsisten sejak 2019.
Sementara itu, Duta Literasi Sumsel dr. Hj. Ratu Tenny Leriva, MM mengatakan tema “Literasi Bersinar, Peradaban Mengakar” menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas diri tanpa meninggalkan budaya dan sejarah.
“Tema ini memiliki makna agar kita terus meng-upgrade dan mengembangkan diri sehingga kemajuan teknologi bisa menjadi teman, bukan musuh atau disalahgunakan,” kata Ratu Tenny.
Menurut dia, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas gerakan literasi sekaligus membuka akses pengetahuan yang lebih luas. Namun, masyarakat tetap perlu memahami budaya dan sejarah sebagai bagian dari identitas.