BACA JUGA:Wuling Starlight 560 Tawarkan Opsi Mesin Bensin, PHEV dan Listrik, Harga Terjangkau Rp 150 Jutaan
Kondisi ini membuat PHEV berbeda dari mobil listrik murni yang sepenuhnya bergantung pada baterai dan infrastruktur pengisian.
Namun, teknologi PHEV juga memiliki sejumlah kekurangan. Harga beli biasanya lebih mahal dibandingkan mobil konvensional dengan kelas dan ukuran yang sebanding.
Hal tersebut disebabkan adanya tambahan baterai berkapasitas besar, motor listrik, inverter serta sistem kontrol elektronik.
Bobot kendaraan juga cenderung lebih berat karena harus membawa dua sistem penggerak.
Pada beberapa model, penempatan baterai bahkan dapat berdampak terhadap kapasitas ruang bagasi.
Dari sisi perawatan, SUV PHEV memiliki sistem yang lebih kompleks. Pemilik tetap harus melakukan perawatan mesin bensin, tetapi juga perlu memperhatikan sistem baterai, motor listrik dan perangkat elektronik pendukung.
Faktor lain yang sering dilupakan adalah kebiasaan mengecas. Keunggulan efisiensi PHEV paling optimal apabila baterai rutin diisi.
Jika pemilik jarang melakukan pengisian dan lebih sering mengandalkan mesin bensin, keuntungan penggunaan PHEV dapat berkurang.
Sementara itu, mobil konvensional masih memiliki keunggulan dari sisi harga awal, sistem mekanis yang relatif lebih sederhana dan kemudahan pengisian energi karena cukup mengandalkan SPBU.
Jadi, SUV PHEV cocok bagi konsumen yang memiliki akses listrik di rumah dan membutuhkan kendaraan fleksibel untuk perjalanan dalam kota maupun luar kota.
Sedangkan SUV konvensional tetap menjadi pilihan rasional bagi pengguna yang mengutamakan harga pembelian lebih terjangkau, perawatan sederhana dan tidak ingin bergantung pada pengisian baterai.
Pada akhirnya, pilihan terbaik bukan hanya ditentukan oleh teknologi terbaru, tetapi juga harus disesuaikan dengan pola perjalanan, fasilitas pengisian listrik, anggaran dan kebutuhan penggunaan kendaraan sehari-hari.