Lalu tari Bugis dari Sulawesi Selatan menampilkan gerak yang kokoh dan berwibawa, merepresentasikan keberanian dan keteguhan. Tradisi Bali hadir dengan gerak dinamis serta permainan mata yang khas.
Selanjutnya, tari Jawa menampilkan gerak yang halus, terukur, dan mengalir. Tari Sunda dari Jawa Barat melengkapi rangkaian dengan gerak yang lincah dan ceria.
Ragam tradisi tersebut kemudian diarahkan menuju satu titik, yakni Kayuagung sebagai tuan rumah pertunjukan.
BACA JUGA:PADAT! Ratu Dewa dan Warga Palembang Saksikan Festival Perahu Bidar HUT Ke-81 RI
BACA JUGA:Serunya Panjat Pinang RT 25, “Bule” Rela Bergelut dengan Oli Demi Rebut Hadiah
Nusantara Bertemu Cang-Cang. Puncak pertunjukan ditandai dengan hadirnya Tari Cang-Cang, tarian khas Kayuagung. Seluruh penari kemudian menyatu dalam satu rangkaian gerak.
Tari Cang-Cang menjadi simbol tuan rumah yang merangkul berbagai tradisi Nusantara. Gerak dari berbagai daerah yang sebelumnya tampil secara terpisah kemudian melebur menjadi satu harmoni.
Konsep tersebut sejalan dengan pesan “Harmony Nusantara”: keberagaman tidak harus diseragamkan, tetapi dapat dipertemukan dalam semangat persatuan.
Keterlibatan 10 anak berkebutuhan khusus semakin memperkuat pesan tersebut. Mereka tampil bersama ratusan pelajar dalam satu panggung, menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan sekaligus ekspresi budaya masyarakat OKI.
BACA JUGA:Semarak HUT ke-81 RI, PTBA Menyalakan Energi, Masyarakat Berdaya, Lingkungan Terjaga
BACA JUGA:Jelang HUT RI, 3 Sumur Infill Baru di Zona 4 Dukung Kedaulatan Energi
Melalui “Harmony Nusantara”, ratusan pelajar OKI tidak hanya menampilkan kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika dipertemukan dalam kebersamaan.