SUMEKS.CO - Presiden Amerika Serikat (AS) dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu berbeda pendapat dan pandangan soal perdamaian di Jalur Gaza. Di satu sisi, Trump ingin perdamaian di Jalur Gaza dengan syarat melucuti senjata Kelompok Hamas. Namun di sisi lain, Netanyahu tetap kukuh pendirian tidak akan menarik militer di Jalur Gaza.
Netanyahu menegaskan pemerintahannya tetap berkomitmen kebutuhan keamanan di Gaza. Mempertebal kabar hubungan Netanyahu dan Trump retak.
Seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Kamis (6/8), Netanyahu mempertegas penolakannya terhadap kesepakatan Gaza, meskipun dirinya telah menerima jaminan dari Dewan Perdamaian atau Board of Peace bahwa penarikan pasukan Israel baru akan dilakukan setelah Hamas melucuti senjatanya.
BACA JUGA:Hamas Siap Gantung Senjata, Israel Serang Warga Gaza, 13 Orang Tewas
BACA JUGA:Kesepakatan Tercapai, Hamas Gantung Senjata, Israel Mundur dari Gaza
Dalam video yang diunggah ke akun media sosialnya pada Selasa (4/8) malam, Netanyahu mengatakan bahwa tim Trump "meyakini mereka dapat mewujudkan perlucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza".
"Kami sedang mengkajinya. Mereka mengirimkan draf kepada kami--kami tidak menyetujuinya, itu bukan draf dari kami. Kami telah mengirimkan tanggapan kami," kata Netanyahu dalam pernyataan video tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Netanyahu setelah surat kabar Israel Hayom, yang mengutip sumber Israel tanpa menyebut nama, melaporkan bahwa PM Israel itu menyampaikan penolakan dalam pertemuan dengan utusan utama Dewan Perdamaian untuk urusan Gaza, Nickolay Mladenov, pada Senin (3/8).
Ditegaskan Netanyahu, dalam pernyataan videonya, bahwa pemerintahannya tetap berkomitmen pada apa yang disebutnya sebagai "kebutuhan keamanan" di Jalur Gaza. Pemimpin sayap kanan Israel itu kembali menegaskan bahwa militer Israel tidak akan mundur dari posisinya di Jalur Gaza hingga Hamas dilucuti senjatanya sepenuhnya.
BACA JUGA:Hamas Punya Pemimpin Baru, ini Profilnya
Netanyahu mengatakan bahwa pemerintahannya telah menginstruksikan militer Israel untuk "mengambil semua langkah yang diperlukan" untuk melindungi tentara, warga sipil, dan wilayah Israel.
Netanyahu menambahkan bahwa pengaturan apa pun di masa depan terkait Gaza harus memastikan bahwa ancaman keamanan tidak muncul kembali. Perkembangan situasi ini dilaporkan saat tekanan terhadap PM Israel itu terus meningkat dari kubu sayap kanan dalam koalisi pemerintahannya agar menolak kesepakatan Gaza.
Dua menteri sayap kanan ekstrem dalam kabinet Netanyahu meminta pemungutan suara ulang terkait kesepakatan Gaza itu pada Selasa (4/8) waktu setempat, dengan alasan bahwa kesepakatan itu tidak mencerminkan apa yang telah dibahas sebelumnya.
Pemungutan suara ulang itu dicetuskan setelah kabinet keamanan Israel, menurut laporan AFP, sebenarnya telah menyetujui kesepakatan Gaza itu melalui pemungutan suara di kalangan menteri dan jajaran pejabat kabinet pemerintahan Tel Aviv.