Mengapa Beberapa Hari Ini Sumsel Terasa Sangat Gerah? BMKG Beberkan Penyebabnya

Senin 20-07-2026,14:19 WIB
Reporter : M Nurul
Editor : Mia

Meski musim kemarau semakin dominan, BMKG menegaskan peluang hujan belum sepenuhnya hilang.

Aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby dan Gelombang Kelvin masih memengaruhi dinamika atmosfer Indonesia sehingga mampu memicu pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.

Bahkan, pada 9 Juli 2026 tercatat hujan lebat mencapai 99 mm per hari di Papua dan 76 mm per hari di Papua Tengah.

Dalam periode 14-17 Juli 2026, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia didominasi cuaca cerah berawan hingga hujan ringan.

Namun, hujan dengan intensitas sedang masih berpotensi terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku hingga Papua Pegunungan.

BACA JUGA:Awal Bulan, Lembaran Baru! BMKG Prediksi Palembang Berpotensi Diguyur Hujan pada Rabu 1 Juli 2026

BACA JUGA:Diprediksi Lebih Kering, BMKG Siapkan Langkah Antisipasi Kemarau dan Karhutla di Sumsel

Sementara hujan lebat disertai petir berpotensi terjadi di Papua.

BMKG juga mengeluarkan peringatan potensi angin kencang di sejumlah daerah, antara lain Aceh, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku hingga Papua Barat.

Sedangkan pada periode 18–20 Juli 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi cuaca cerah hingga hujan ringan dengan potensi hujan sedang di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.

Waspadai Dehidrasi dan Karhutla

BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau yang semakin dominan.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan pelindung kepala, tabir surya, serta memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi dan kelelahan akibat paparan sinar matahari.

Selain itu, meningkatnya kondisi atmosfer yang kering juga berpotensi memicu munculnya titik panas (hotspot) dan kebakaran hutan maupun lahan (karhutla).

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan, terutama di kawasan gambut, semak belukar, maupun lahan kering yang mudah terbakar.

BACA JUGA:Diprediksi Lebih Kering, BMKG Siapkan Langkah Antisipasi Kemarau dan Karhutla di Sumsel

Kategori :