Ari mengungkap sampai posisi Maret 2026, kinerja BSI melampaui kinerja industry perbankan lain di wilayah Palembang.
Dana PIhak Ketiga (DPK) tumbuh 23,9% (YOY), dan Pembiayaan tumbuh 26% (YOY) yang menunjukkan BSI Region III Palembang juga melaksanakan fungsi intermediasi dengan baik.
Saat ini fungsi digital akan dioptimalkan untuk bisnis emas dan haji. Saat ini BSI sangat fokus mengembangkan bisnis emas dan haji sejalan dengan dual licence yang dijalankan yakni sebagai bank syariah dan bank emas.
Untuk Tabungan emas terdapat peningkatan 406,5% secara (YOY) dengan peningkatan NOA mencapai 937%. Demikian juga dengan tabungan haji dan NOA Tabungan haji yang tumbuh 18-19% (YOY).
BSI telah menjadi bank bullion sejak 26 Februari 2026 dan menjadi bank Persero pada 23 Januari 2026. Sejak itu BSI terus melanjutkan transformasi bisnis dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia.
Penetrasi bisnis dan digital yang telah dibangun dalam satu tahun terakhir terlihat dari kinerja keuangan BSI yang tetap solid.
Hingga April 2026, BSI pusat membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp2,80 triliun atau tumbuh 17,79 persen secara tahunan, dengan total aset mencapai Rp452 triliun.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh menjadi Rp382 triliun dan pembiayaan meningkat menjadi Rp332 triliun dengan kualitas aset yang tetap terjaga, mencerminkan fundamental yang semakin kuat untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.