Menurut Wahyu, persoalan sampah saat ini tidak cukup diselesaikan melalui pengangkutan dan pembuangan semata, melainkan membutuhkan perubahan pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah.
BACA JUGA:PLN UP3 Palembang Jemput Pelanggan di CFD dan CFN, Bayar Listrik Kini Lebih Mudah dan Praktis
BACA JUGA:Dirut PLN Minta Maaf dan Sampaikan Update Pemulihan 8,3 Juta Pelanggan
“Sampah yang sering dianggap tidak bernilai sesungguhnya memiliki manfaat jika dikelola dengan baik. Melalui Gerakan Sedekah Sampah untuk Pendidikan, botol-botol plastik yang terkumpul akan diolah menjadi sarana pendidikan yang bermanfaat bagi anak-anak yatim dhuafa.
Artinya, menjaga lingkungan tidak hanya menghasilkan lingkungan yang bersih, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial dan pendidikan bagi masyarakat,” jelas Wahyu.
Ia berharap kolaborasi yang terbangun bersama PLN dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam upaya pelestarian lingkungan.
Aksi kolaboratif yang diikuti 214 peserta ini berhasil mengangkat 5.6 ton sampah organik serta 2.7 ton sampah anorganik dari lingkungan permukiman dan area publik di daerah Sematang Borang, Kecamatan Sako.
Jumlah tersebut menjadi gambaran nyata bahwa persoalan sampah masih memerlukan perhatian bersama sekaligus menunjukkan besarnya dampak yang dapat dihasilkan melalui semangat gotong royong masyarakat, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha.
Sampah yang terkumpul selanjutnya dipilah dan diangkut untuk dikelola sesuai jenisnya, sehingga tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga mendorong tumbuhnya budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.