SUMEKS.CO - “Kalau listrik byar pet ‘kan biasanya yang disalahin itu cuaca, petir kalau enggak daun sengon, tapi kenapa sekarang beda?,” ujar Dzikri Hakam Phd, ekonom SBM ITB.
Soalnya sekarang masalahnya di batu bara dan seakan lagi ada adu kuat nih antara regulator, pemerintah dengan perusahaan.
"Jadi ‘kan Indonesia itu bukan negara miskin batu bara, tahun 2025 produksi batu bara itu sekitar 790 juta ton", jelasnya.
Nah yang dipakai domestik itu ‘kan cuma sekitar 254 juta ton, terus diekspor sekitar 514 juta ton.
BACA JUGA:Batu Bara Melimpah Tapi Listrik Padam, Punya Sumur Besar Namun Masih Beli Air Galon, Ini Masalahnya?
Artinya apa?
Mayoritas batu bara kita kan tetap pergi ke pasar ekspor.
Nah sekarang pemerintah itu lagi masuk ke pasar ekspor ini lewat PP 24 tahun 2026.
Ekspor komoditas strategis kayak batu bara, sawit sama ferro alloy itu bakal dilakukan sama BUMN ekspor. DSI itu jadi penting.
BACA JUGA:Batu Bara Melimpah Tapi Listrik Padam, Punya Sumur Besar Namun Masih Beli Air Galon, Ini Masalahnya?
Nah kalau sebelumnya ekspor itu bisa jual langsung tuh ke pembeli luar negeri.
"Sekarang negara itu masuk ke rantai perdagangan. Si DSI ini berpotensi memegang tiga tuas pentingnya", kata Dzikri Hakam.
Pertama itu harga, terus yang kedua itu margin, terus yang ketiga itu timing ekspornya.