BRI Kucurkan Rp 500 Miliar Untuk Buyback Saham

Minggu 14-06-2026,22:00 WIB
Reporter : Tri
Editor : Wiwik

JAKARTA - BRI sudah menyiapkan dana segar Rp 500 miliar untuk membeli kembali saham dalam kondisi pasar fluktuatif.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapan langkah ini merupakan bagian dari strategi perseroan untuk meningkatkan nilai pemegang saham.

Sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kekuatan fundamental kinerja perseroan serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang tetap solid. 

“Kami menilai valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis perseroan,” imbuh Dhanny.

Periode buyback fluktuatif akan dilaksanakan pada 12 Juni 2026 hingga 11 September 2026.  

BACA JUGA:Fundamental Kuat, BRI Sambut Positif Dukungan Berbagai Pihak terhadap Pasar Modal

BACA JUGA:BRI Hadirkan QRIS Cross Border BRImo di China, Wujudkan Pengalaman Transaksi Luar Negeri yang Makin Mudah

Pelaksanaan buyback fluktuatif ini mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kebijakan dalam Menjaga Kinerja dan Stabilitas Pasar Modal pada Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan.

Serta Surat OJK Nomor S-10/D.04/2026 tanggal 13 Maret 2026 mengenai kebijakan pelaksanaan pembelian kembali saham oleh perusahaan terbuka dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. 

Adapun pendanaan buyback fluktuatif akan berpedoman pada POJK 13/2023 dan POJK 29/2023. Buyback fluktuatif akan dilaksanakan pada harga yang dinilai wajar, dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan yang berlaku. 

Dhanny menambahkan bahwa langkah buyback yang dilakukan BRI juga telah mempertimbangkan kondisi pasar yang masih dipengaruhi berbagai tantangan global, mulai dari ketidakpastian ekonomi dunia.

BACA JUGA:Usaha Sembako Makin Berkembang Berkat Sentuhan Holding Mikro BRI

BACA JUGA:Dukung Pengembangan Wisata dan Edukasi, BRI Peduli Salurkan Bantuan untuk Desa Ketapanram

Meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk pasar modal Indonesia. 

Kategori :